Kepergianmu adalah berita yang tak pernah kudengar, namun aku kenang. Berita kepergianmu tak kan pernah datang, dan aku takkan mengundang. Apakah aku juga kau kenang atau pernah jadi bahan pertimbangan dari alasan? Atau kau abaikan. Kepergianmu adalah petaka yang kuhindari, tapi sayang aku lengah mengabadikan.
Aku menghitung berapa pekan, dari kepergianmu yang tak kuikhlaskan. Berteman dengan ilalang aku bertanya dengan sendirian? Sayang, aku seorang tuli, buta. Aku tak bisa mengerti apa kata ilalang. Aku hanya dapat merasakan kedukaan yang dalam dari gerakan ilalang, yang dibantu angin siang untuk memberikanku jawaban. Biar aku yang mengartikan, apapun itu.
Duka dan kegelapan adalah hariku berikutnya tanpa kau. Aku bersanding dengan penyesalan, dengan firasat kotor seorang setan. Siulan burung malam, meyakinkan bahwa ini mengenaskan. Mereka membawaku bimbang, dari kejadian yang aku percayakan. Aku terlelap dipangkuan setan, namun berselimut kebaikan. Aku kian hilang kepercayaan...
Bisakah aku tidak membenci, jika memang terlanjur terjadi? Sanggupkah aku mengepakkan sayap sayap malaikat dan memuja surga Tuhan. Atau hanya sekedar ucapan, untuk meredam hati agar ingkar.
Masihkah ada waktu panjang, bagiku meneruskan pencarian? Adakah keajaiban untuk hanya membuat rindu padam?
Ataukah takdir telah bergegas membakar kesempatan, untuk hanya sedetik pertemuan. Biar hanya sekilas tatapan tanpa ucapan selamat tinggal.
