Pages

0 Akhirnya kau pergi

Jumat, 12 Agustus 2016

Kepergianmu adalah berita yang tak pernah kudengar, namun aku kenang. Berita kepergianmu tak kan pernah datang, dan aku takkan mengundang. Apakah aku juga kau kenang atau pernah jadi bahan pertimbangan dari alasan? Atau kau abaikan. Kepergianmu adalah petaka yang kuhindari, tapi sayang aku lengah mengabadikan.

Aku menghitung berapa pekan, dari kepergianmu yang tak kuikhlaskan. Berteman dengan ilalang aku bertanya dengan sendirian? Sayang, aku seorang tuli, buta. Aku tak bisa mengerti apa kata ilalang. Aku hanya dapat merasakan kedukaan yang dalam dari gerakan ilalang, yang dibantu angin siang untuk memberikanku jawaban. Biar aku yang mengartikan, apapun itu.

Duka dan kegelapan adalah hariku berikutnya tanpa kau. Aku bersanding dengan penyesalan, dengan firasat kotor seorang setan. Siulan burung malam, meyakinkan bahwa ini mengenaskan. Mereka membawaku bimbang, dari kejadian yang aku percayakan. Aku terlelap dipangkuan setan, namun berselimut kebaikan. Aku kian hilang kepercayaan...

Bisakah aku tidak membenci, jika memang terlanjur terjadi? Sanggupkah aku mengepakkan sayap sayap malaikat dan memuja surga Tuhan. Atau hanya sekedar ucapan, untuk meredam hati agar ingkar.

Masihkah ada waktu panjang, bagiku meneruskan pencarian? Adakah keajaiban untuk hanya membuat rindu padam?

Ataukah takdir telah bergegas membakar kesempatan, untuk hanya sedetik pertemuan. Biar hanya sekilas tatapan tanpa ucapan selamat tinggal.

0 Perempuan yang tertinggal

Harap masih berada dalam kungkungannya, perempuan itu tak pernah mau beranjak dari gundah yang ia ciptakan sendiri. Hatinya terlalu keras, angannya terlalu konstan. Apa ia tak bosan?

Telinganya kini kian tuli dari bisikan bisikan kebahagiaan yang menjanjikan. Mengapa ia hanya termangu dalam cekam, dari penantian tanpa keputusasaan. Logika pun tak mampu memperingatkan bagi niatnya yang telah membatu. Hanya untuk merayu, dari tempat dimana ia katakan kenyamanan. Hanya untuk membantu ia pergi mendapatkan hak yang lain lagi.

Perempuan demikian, membisingkan dengan tangisan dari hati yang paling dalam tanpa ada yang mendengar. Mulut mereka diam.

Rasa adil apa yang kalian nanti? Hidup apa yang sedang kalian mimpi?

Apakah kenyataan telah memberikan arti, bagi mimpi kalian ini?
Ataukah kalian menolak dan tetap ingin beraa dalam kenyaman yang kalian rasakan sendiri?

0 Insomnia

Jumat, 05 Agustus 2016

Malam selalu menjadi teman dari bimbang, aku bertemu lagi dengan insomnia, yang sedang meminta kencan di akhir pekan. Dengan nyanyian jangkrik yang riang berdendang disusul pikiran yang menendang...

Mungkin otak sedang girang, sehingga memunculkan beberapa pertanyaan, atau sedang mengembalikan bimbang dan keraguan. Aku sedang hilang kepercayaan...