Harap masih berada dalam kungkungannya, perempuan itu tak pernah mau beranjak dari gundah yang ia ciptakan sendiri. Hatinya terlalu keras, angannya terlalu konstan. Apa ia tak bosan?
Telinganya kini kian tuli dari bisikan bisikan kebahagiaan yang menjanjikan. Mengapa ia hanya termangu dalam cekam, dari penantian tanpa keputusasaan. Logika pun tak mampu memperingatkan bagi niatnya yang telah membatu. Hanya untuk merayu, dari tempat dimana ia katakan kenyamanan. Hanya untuk membantu ia pergi mendapatkan hak yang lain lagi.
Perempuan demikian, membisingkan dengan tangisan dari hati yang paling dalam tanpa ada yang mendengar. Mulut mereka diam.
Rasa adil apa yang kalian nanti? Hidup apa yang sedang kalian mimpi?
Apakah kenyataan telah memberikan arti, bagi mimpi kalian ini?
Ataukah kalian menolak dan tetap ingin beraa dalam kenyaman yang kalian rasakan sendiri?

0 komentar:
Posting Komentar