Pages

0 Lalu aku bisa apa?

Selasa, 27 Desember 2016

Kamu tidak akan tahu, bagaimana rasanya menjadi aku? Dan aku harap kamu tidak akan pernah menjadi aku. Kamu harus bahagia. Dan seperti yang kuinginkan, kamu terlihat bahagia malam ini.Kau dengan bersemangat bercerita banyak hal,suaramu berlomba dengan musik di cafe ini. Tapi, pembicaraanmu cukup jelas, bahkan sangat jelas.

Tentang seorang perempuan yang akan bersamamu di masa depan. Ah, sepertinya aku tidak usah bertanya hal yang sudah jelas jawabannya. Seperti apa kau mencintai dia,Endra?. Matanya yang berbinar, dan semangatnya yang menyala sudah menjawab semuanya. Endra mencintainya, dia berkata "Mey, datanglah ke pernikahanku bulan depan. Silla sangat ingin berkenalan denganmu, aku banyak cerita tentang kita yang sangat akrab  sejak kecil. Kau berperan banyak dihidupku mey...datanglah kau tamu penting kami"

Perempuan memang terkadang suka menipu, iya seperti apa yang kulakukan saat ini. Menipu diri dan menipu orang terdekatku, berpura tidak ada yang terjadi di balik goncangan hatiku saat ini. Endra akan menikah, dan itulah takdirku saat bertemu kembali dengan Endra, setelah 5 tahun kami berpisah. Setelah kami lulus sma aku mendapat beasiswa kr luar negeri, tapi ternyata aku sendiri. Endra gagal dalam proses seleksi, dan hanya aku yang pergi. Endra menyemangatiku dan berjanji akan selalu menemaniku walaupun hanya berwujud tulisan yang ia buat sewaktu waktu. Kami rajin mengirim email satu sama lain, berbagi cerita tentang ini dan itu. Sampai pada akhirnya kami saling sibuk masing masing dan lama tak berjumpa lewat tulisan kembali.

Endra tak banyak berubah, dia tetap Endra yang baik, lembut, dan sopan. Tuhan, aku menyukainya. Endra. Tapi sekarang, Endra menikah!menikah!menikah!....Aku tersenyum manis di depannya, di depan Endra. Seolah olah aku bahagia, bahagia? Rasanya kantung airmataku penuh, tak sengaja aku meneteskan air mata. Endra mengernyirkan dahinya, tangannya memegang tanganku " Mey, aku tetap akan menjadi teman baikmu, aku bersyukur Tuhan telah memberikan sahabat sepertimu" . Andai Endra tahu, rasanya aku ingin menahan keinginannya saat itu. " Aku bahagia mendengarnya Endra, aku bersyukur" entah ini keluar bagaimana dari mulutku , mungkinlah hatiku mulai pasrah pada alam?

Endra masih memegang tanganku, " Mey, terimakasih sudah menjadi sahabat terbaik dalam hidupku, sejak ibu pergi kau dan keluargamu menjadi keluargaku juga, kalian sangat baik padaku. Setelah menikah, aku akan tetap jadi tetangga manismu, karena ayah membutuhkanku. Ayah bertanya tentangmu mey"

"Ayahmu pasti bersyukur dan bahagia Endra, dan aku yakin Silla perempuam yang tepat"

"Seperti biasa kau selalu percaya diri dengan perkataanmu" Endra menyilangkan kedua tangan didadanya dan bersandar di sofa cafe.

" Apa kau sudah siap berdebat denganku?" Jawabku sambil meneguk secangkir kopi.

Endra tersenyum, dan menutup mukanya dengan kedua tangannya. Lalu, tangannya menuju ke saku jasnya seperti mencari sesuatu. Tak lama undangan berwarna emas, dengan balutan pita merah diambilnya dan diletakkannya di atas meja. " Mey, kata Silla kau wajib datang, ayah juga ingin melihatmu di pesta kami. Saat ini Ayah masih sibuk dengan urusan kesehatannya. Ia dirawat di rumah Silla"

Oh...apa yang harus aku katakan pada Endra kecuali menerima apa yang dia minta. " Aku pasti datang Endra, pergilah kau pasti sibuk. Aku terima undanganmu dengan ikhlas ", Endra pergi setelah menjabat tanganku dan tersenyum kepadaku. Inilah terakhir aku memilikinya, yang sebenarnya aku tak pernah memilikinya dan tidak akan pernah. Tidak ada kata perpisahan darinya, hanya dari hatiku saja.

Dan jika tuhan menciptakan kamu untuk dia, lalu aku bisa apa?

0 Cara mencintaimu

Minggu, 25 Desember 2016

Langit tidak pernah meminta untuk di atas
Dan bumi tidak pernah menolak untuk diinjak
Dan perasaanku tidak pernah kuminta memilihmu
Aku yang tak pandai memperhitungkan

Jika saja semua ini adalah musim semi, maka akan terasa seperti musim gugur bagimu
Tak ada perayaan, hanya daun daun yang rontok dari pohonnya
Tergolong aku yang kering kerontang disana

Menjadi orang bodoh !
Dan itu pilihan
Bertanggungjawab sendirian,mengemban resiko yang tak diinginkan
Hidup ini kaku, terlebih saat mencintamu

Mencintaimu selalu membuatku rindu, aku benci
Karena ini membuatku semakin bisu didepanmu atau bodoh di depanku sendiri

Dan seberapapun celah yang ada diantara kita
Hanya ketidakmungkinan yang sangat nyata

Serta keikhlasan yang harusnya ada padaku

Cinta itu terkadang sederhana namun tatkala rumit saja
Tapi tidak bagi yang benar benar mencintai
Bagi mereka yang merasakannya dengan benar, tanpa sadar mengalahkan keegoisan dan luluh hanya untuk kebahagian yang terkadang bukan miliknya tapi untuk yang ia cintai

Mungkin seperti itulah mencintaimu

0 Menjadi orang bodoh

Jumat, 23 Desember 2016

Saat itu usiaku memang sudah belia
Tapi sayang aku tak peka
Katanya dari teman, akrab,lalu bisa ada perasaan suka
Aku hanya bertanya, memang iya?

Semua terasa biasa, saat pikiran kita tak sampai kesana
Biarpun si dia sudah berusaha, tapi bagaimana jika salah satunya diam saja
Usaha saja tak cukup membuat peka
Tapi, perlu ungkapan agar terlihat nyata

Jangan hanya memberikan kode dan signal signal yang maya....

0 Perbedaan

Aku menyukai sosial media
Kau menyukai buku buku tua
Tapi kita berbicara tentang hal yang sama
Yaitu "Kita"

0 Desember

Minggu, 04 Desember 2016

Pukul 10 malam, tanpa orang berlalu lalang
Dengan kamu dan deadline kerja yang masih dalam pikiran
Tak ada hari minggu, tak ada waktu biar hanya termangu
Desember yang padat,
Desember yang penat