Kamu tidak akan tahu, bagaimana rasanya menjadi aku? Dan aku harap kamu tidak akan pernah menjadi aku. Kamu harus bahagia. Dan seperti yang kuinginkan, kamu terlihat bahagia malam ini.Kau dengan bersemangat bercerita banyak hal,suaramu berlomba dengan musik di cafe ini. Tapi, pembicaraanmu cukup jelas, bahkan sangat jelas.
Tentang seorang perempuan yang akan bersamamu di masa depan. Ah, sepertinya aku tidak usah bertanya hal yang sudah jelas jawabannya. Seperti apa kau mencintai dia,Endra?. Matanya yang berbinar, dan semangatnya yang menyala sudah menjawab semuanya. Endra mencintainya, dia berkata "Mey, datanglah ke pernikahanku bulan depan. Silla sangat ingin berkenalan denganmu, aku banyak cerita tentang kita yang sangat akrab sejak kecil. Kau berperan banyak dihidupku mey...datanglah kau tamu penting kami"
Perempuan memang terkadang suka menipu, iya seperti apa yang kulakukan saat ini. Menipu diri dan menipu orang terdekatku, berpura tidak ada yang terjadi di balik goncangan hatiku saat ini. Endra akan menikah, dan itulah takdirku saat bertemu kembali dengan Endra, setelah 5 tahun kami berpisah. Setelah kami lulus sma aku mendapat beasiswa kr luar negeri, tapi ternyata aku sendiri. Endra gagal dalam proses seleksi, dan hanya aku yang pergi. Endra menyemangatiku dan berjanji akan selalu menemaniku walaupun hanya berwujud tulisan yang ia buat sewaktu waktu. Kami rajin mengirim email satu sama lain, berbagi cerita tentang ini dan itu. Sampai pada akhirnya kami saling sibuk masing masing dan lama tak berjumpa lewat tulisan kembali.
Endra tak banyak berubah, dia tetap Endra yang baik, lembut, dan sopan. Tuhan, aku menyukainya. Endra. Tapi sekarang, Endra menikah!menikah!menikah!....Aku tersenyum manis di depannya, di depan Endra. Seolah olah aku bahagia, bahagia? Rasanya kantung airmataku penuh, tak sengaja aku meneteskan air mata. Endra mengernyirkan dahinya, tangannya memegang tanganku " Mey, aku tetap akan menjadi teman baikmu, aku bersyukur Tuhan telah memberikan sahabat sepertimu" . Andai Endra tahu, rasanya aku ingin menahan keinginannya saat itu. " Aku bahagia mendengarnya Endra, aku bersyukur" entah ini keluar bagaimana dari mulutku , mungkinlah hatiku mulai pasrah pada alam?
Endra masih memegang tanganku, " Mey, terimakasih sudah menjadi sahabat terbaik dalam hidupku, sejak ibu pergi kau dan keluargamu menjadi keluargaku juga, kalian sangat baik padaku. Setelah menikah, aku akan tetap jadi tetangga manismu, karena ayah membutuhkanku. Ayah bertanya tentangmu mey"
"Ayahmu pasti bersyukur dan bahagia Endra, dan aku yakin Silla perempuam yang tepat"
"Seperti biasa kau selalu percaya diri dengan perkataanmu" Endra menyilangkan kedua tangan didadanya dan bersandar di sofa cafe.
" Apa kau sudah siap berdebat denganku?" Jawabku sambil meneguk secangkir kopi.
Endra tersenyum, dan menutup mukanya dengan kedua tangannya. Lalu, tangannya menuju ke saku jasnya seperti mencari sesuatu. Tak lama undangan berwarna emas, dengan balutan pita merah diambilnya dan diletakkannya di atas meja. " Mey, kata Silla kau wajib datang, ayah juga ingin melihatmu di pesta kami. Saat ini Ayah masih sibuk dengan urusan kesehatannya. Ia dirawat di rumah Silla"
Oh...apa yang harus aku katakan pada Endra kecuali menerima apa yang dia minta. " Aku pasti datang Endra, pergilah kau pasti sibuk. Aku terima undanganmu dengan ikhlas ", Endra pergi setelah menjabat tanganku dan tersenyum kepadaku. Inilah terakhir aku memilikinya, yang sebenarnya aku tak pernah memilikinya dan tidak akan pernah. Tidak ada kata perpisahan darinya, hanya dari hatiku saja.
Dan jika tuhan menciptakan kamu untuk dia, lalu aku bisa apa?

0 komentar:
Posting Komentar