Pages

Kamis, 31 Desember 2015


Si kecil tenanglah di Surga
Dunia menangis dengan iba, saat tahu kau dikubur dan disalamkan telah ke neraka. Kami tak tahu, bahwa sebelumnya kau tak mengenal tawa dunia. Kau habiskan pengertian surga dengan sakitnya cambukan neraka. Selimutmu adalah api yang menyala – nyala, dan nasehatmu adalah amarah dengan murka. Air lagi tak segar menyirami tubuhmu yang terbakar, bahkan air membuat sakitnya kulitmu yang sedikit demi sedikit meleleh dan taburan luka menjadi semakin pedih. Kau berteriak dengan cucuran air mata yang membasahi pipi, mengharap ada tolong mengangkat tanganmu dari lubang sandiwara ini.
          Kau si kecil dengan kabar burung, rupanya kau terselubung. Mereka berkata apa anakku tlah dikubur?, atau masih merasakan makan bubur? , pesan dan air mata mereka tlah menyebarkan haru, mereka selimutkan haru untuk tidur kami dengan mimpi kubur dan bubur. Salahkah jika dunia mencari si kecil yang masih menjadi kabar burung? Simpati lalu datang tanpa diundang. Simpati datang untuk memastikan kabar burung si kecil, bersamaan dengan siulan – siulan syahdu dari bibir mungil mereka dalam sangkar, sambil bernyanyi riang. “Biarkan kau pulang”.
          Simpati tak mau henti, biarpun lampu merah sudah memperingatkan, tapi sayang mereka mulai tak berkicau bertanya kubur atau bubur. Mereka mulai seperti burung yang tak kerasan dalam sangkar, seperti kesepian. Mereka bilang, stress kemudian, dan simpati tampak seperti maling maling yang perlu usiran. Mereka enggan, dan mengatakan simpati menyedihkan.Tapi, sayang seribu sayang rupanya simpati diminta menang, menang membuka kabar burung yang menebar. Kabar burung yang membuat semua orang memukul dada, bercucuran iba, dan memaki siapa siapa. Ternyata kabar tentang si kecil hanya panggung mungil sandiwara, yang diciptakan mereka untuk menguji imajinasi dan karya cipta hati dan otak – otak gila. Iya…mereka gila. Mereka tak tanyakan apakah anakku dikubur, ataupun makan bubur. Mereka hanya menyampaikan, anakku biar kukubur dan biarkan semua menjadi bubur.
          Dunia tergonjang seperti merasakan gempa, diantaranya menganga menyaksikan dengan mata si kecil yang memegang boneka, dengan senyuman surga yang menyapa siapa saja yang melihatnya, menutup mata. Si kecil sudah lemah tak berdaya, terkubur di belakang istana, tertutup tanah – tanah kering dan kotoran kotoran hewan yang bertengger ataupun lewat diatasnya, Mungkin sudah kau lihat surga, diatas langit dan awan awan putih ditas sana. Sungguh Malang kau didunia. Dengan usiamu yang masih tak tahu apa – apa , mungkinkah kau merasakan tangan tangan yang memegangmu mesra? Atau hanya sekedar maya?. Ku dengar kau pernah bahagia, dengan senyum senyum yang kulihat dalam social media. Tapi, melihatmu memegang boneka dengan penuh luka, aku tahu itu hanya bualan belaka. Kau si kecil yang menjadi artis dengan skenario mereka.
          Si kecil yang malang, jangan kau ada lagi di dunia. Cukuplah kau yang sudah ada di surga. Ini kesalahan mereka orangtua, yang lalai dan ingin harta. Yang haus ekonomi dunia. Salah kami pemuda dan tetangga, yang tak pernah berani merangkulmu meski luka. Dustalah hidup kami biarpun kami kuat di dunia.
          Si kecil yang telah berbahagia, tenanglah disurga ……

0 Surat Untuk Matanya yang Tak Berkobar


Kepada Yth Bapak Pimpinan, betapaku menyaksikan setiap sesi gugatan yang melayang – layang untuk hinggap dalam bagian hidupmu. Gugatan menjadi angin puyuh yang memporak – porandakan perjuanganmu. Gugatan menjadi benalu, melekat bagai kotoran baju. Gugatan menarikmu dalam beberapa sudut ruang. Mereka jadikanmu familiar, dengan pelanggaran.
Tak lama gugatan memilih dalang, dalang dalam masalah yang mungkin masih butuh pengkajian.  Tak lain adalah Bapak pimpinan. Aku adalah public yang buta kebenaran. Walau kuraba dalam terang. Lalu, otakku menyampaikan kejadian entah kulupa kapan. Di tahun sebelum kau datang, dengan mata berkobar. Berperang melawan kejahatan. Kejadian dengan awal yang sama, mereka entah siapa yang menjadikan ini center perbincangan. Tanpa si Dalang tahu, siapa dan apa yang mereka katakan. Public menyatakan bahwa ini kesalahan, Si Dalang pula berseru demikian. Namun, Si Dalang tak dipedulikan dan familiar mendengar ketokan palu di pengadilan dengan kata yang kuhafal yakni “bersalah”.
Entah apa yang membuat si Dalang tiba tiba seakan tenggelam di lautan, perhatian tentangnya tergeser oleh suatu kepentingan yan lebih mengguncangkan. Mereka entah siapa membuat public tak kembali perhatian. Mereka suguhkan hujan agar kami pergi dan menikmati nikmatnya segar. Mereka tawarkan segar diantara panasnya kemarau. Kami lupa kau, dan tertarik dengan hujan segar. Mungkinkah itu air matamu yang tak dipedulikan orang?, kau menangis dalam tawa beberapa orang. Kau berikan mereka segar, udara segar. Biarpun kau, dibalik jeruji yang dibenci banyak orang. Kurasa hujannya sangat deras, mungkin seperti kecewanya hatimu pada keadilan.
Bapak Pimpinan, kau adalah Dalang kedua yang membuat mereka kecewa. Kau dianggap sebagai nahkoda yang tak tau kecepatan kapal, mereka bilang kapalmu bobrok. Biarpun sebenarnya, merekalah yang menjadi kuman – kuman dan tangan – tangan usil didalamnya. Lalu mereka katakan, karena kau Dalang. Mereka lalu mendorongmu kelautan, menolongmu ke daratan, lalu membawamu pelan tenggelam.
Bapak Pimpinan, ini hanyalah dinamika yang orang – orang hebat ciptakan. Orang – orang hebat sedang membuka bukunya lalu menjadi kutu untuk bukunya sendiri. Mereka menikmati menjadi kutu, bukan kutu buku. Mereka lantangkan teori seperti penemu, mereka paparkan penelitian layaknya tahu lapangan. Sungguhku meragukan keamanahan, dibalik seruan kutemukan kepulasan mereka tidur di bangku yang nyaman. Mereka orang – orang makalah yang hanya membaca makalah, dan menciptakannya. Mereka hanya berputar – putar didalamnya seperti mainan anak kecil di taman. Atau apakah mereka bagian pemakainya? .
Bapak Pimpinan, jangan kalah ini hanya permainan. Permainan dengan anak kecil yang hafal dalam cara bermain. Anak kecil suka bermain, dan banyak diantaranya ingin menang. Nikmatilah permainan anak kecil, sambutlah mereka dengan hangat. Mereka butuh bermain untuk senang, biarpun mereka lupa bahwa dalam bermain pasti ada tawa dan tangisan. Ada yang selamat dan jatuh di pertengahan, dan tak semua anak kecil tahan untuk tak mengeluarkan tangisan.
Bapak Pimpinan, taukah kau bahwa dalam hari – hari yang kau lalui kau temukan siang dan malam. Kau rasakan panasnya matahari dan indahnya bintang saat gelap datang. Itulah kehidupan, roda slalu berputar. Tuhan tak pernah ingkar atas kenikmatan yang akan dirasakan bagi hambanya yang sabar. Tuhan juga tak pernah lalai melihat perbuatan keji dan mungkar, bagi hambanya yang menjadi setan. Jangan gentar, kembalilah menjadi pejuang. Buatlah matamu kembali berkobar seperti saat kau jadi Pimpinan.
Berkobarlah Pimpinan, kami tunggu aksimu lagi….




Nenek yang Kusayang
Ingatanku masih terlena tentangmu nek. Setelah berapa tahun kau pergi dan menapaki alam yang tak kuketahui. Senyummu masih membekas, rasa cintamu masih terasa. Kau nenek yang kusayang…

Biar ku bernostalgia, tentang hari yang kita habiskan berdua. Tentang malam yang penuh belaian. Siang yang ramai dengan celotehku dan ocehanmu. Kau berikan aku boneka .Lalu kau berdagang. Kau berpeluh untuk menghasilkan uang, agar aku bisa makan. Tak luput kau siapkan, makanan dengan sajian yang kudamba. Kau ingin berbagi segala suka dan kau menenggelamkan diri dalam duka. Dan aku hanya si kecil yang tak tahu apa apa.
Nenek ingatkah kau, aku suka saat kau menyisir rambutku yang panjang. Tak lupa kau usapkan minyak rambut yang tak kusuka. Aku cukup tersiksa, kau slalu membelai rambutku. Menyisirnya dengan rapi, dan kau pakaikan aku baju baju yang kusuka, aku mengomentarinya lucu dan kau tertawa.

Kau berpesan, bersih adalah sebagian dari iman. Kau benci aku kotor. Kau slalu menjagaku, agar aku terlihat cantik nan indah. Kau jaga aku bagai permata. Aku mahal untukmu Nek. 

Nenek, saat itu aku tak tahu apa itu cinta. Yang kutahu hanya memelukmu itu terasa hangat diraga. Kau wanita dengan sejuta kelembutan dijiwa. Anggun perangaimu bak laksana bidadari bulan. Cintamu dalam diam, namun terasa kuat menggenggam. 

Aku pernah katakan, kau nenek dengan sejuta kata jangan. Tapi, sekarang kusadar. Bahwa itulah tanda sayang. Kau mengkhawatirkanku dengan air mata yang kau simpan. Dengan itu kau tunjukkan.

Andai ku banyak mengingat dengan sempurna tentang kita, tentang bagaimana sentuhanmu terus membesarkanku. Kau jadikan aku bintang kecil yang bersinar terang, laksana Sirius yang dipuja banyak orang. Biarpun aku hidup terkekang.

Nenek yang kusayang, betapa aku tercabik melihatmu lunglai dengan penyakit. Ku sempat tanyakan pada Tuhan, mengapa nenek tak kunjung baik. Aku penuh harap, kau tak pulang. Tapi apa daya takdir sudah tertuliskan dan aku sendirian.

Ragamu kini tak kulihat, tapi cinta kasihmu membekas. Aku masih merasakan lembutnya kasih yang kau tinggalkan. Tak ada benci tak ada caci yang ingin kuberikan. Hanya kuingin sampaikan, terimakasih yang mendalam. Untuk nenek yang kusayang….
Rabu, 30 Desember 2015

Sepenggal Perpisahanan….

Hari ini tak kutanyakan lagi tentang kita.  Cinta ataupun rindu yang berada didalamnya. Bukan karna aku sudah pasrah. Mungkin karena aku yang lengah. Kecocokan menjadi peran diantara ini. Kau katakan semua berubah, lalu waktu menjadi masalah. Lagi lagi aku yang lengah. Aku menjadi topikmu hari ini. Iya, aku yang lengah. Rasanya aku menghafal setiap kata yang kau keluarkan untukku, biarpun pendengaranku berkompetisi dengan angin yang mengaung ngaung merusak iramamu. Suaramu bersaut sautan dengan ombak dan angin pantai. Tak bisa kulagi tatap matamu, biarkan kunikmati bayanganmu, yang dicipta dari sinar mentari.

Enggan kulihat merah matamu, kau marah padaku. Lalu kau sautkan pisah. Aku masih terlena dengan bayangmu, takut ini adalah kebenaran dari katamu. Aku benci perpisahan,terlebih ini denganmu. Tapi aku tak tahu apakah kau juga.

Kau mengutarakan alasan, aku lagi lagi diam. Kau genggam tanganku, kurasakan permohonan. Iya, kusadar kau tak ingin pulang bersamaku lagi. Baiklah, kumulai memberanikan diri menatapmu. Betapa jelas, wajah permohonan. Kau inginkan perpisahan. Rupanya cintamu sesederhana ini, hanya bertahan lalu diakhiri perpisahan. Dan kau sautkan kecocokan untuk alasan. Cintamu butuh alasan untuk tinggal ataupun pergi.

Tak kukatakan kuingin bertahan, karena aku mencintaimu lebih. Tak kukeluarkan kata kata, hanya anggukan untuk memperjelas keinginanmu. Kata kataku biarkan lunglai, aku tersenyum melihatmu. Untuk sekedar mengatakan baik baik saja. Kau juga. Senyuman kita bersama menerangi pantai. Lalu, kau katakan terimakasih sebagai penutupnya. Manis, akhir yang manis.

Aku mengangguk,tersenyum, dan tak sadar menggenggammu lebih erat. Kau tersentak, lalu perlahan melepas jari jarimu dalam genggaman. Mulai berjalan membelakangiku. Aku tak lagi melihat wajahmu, aku melihat punggungmu yang gagah penuh kebebasan. Kau pulang….

Sesingkat ini perpisahan, jauh lebih singkat dari panjangnya kenangan. Kita putus.
Jumat, 04 Desember 2015

Bersandarlah

Tak perlu diingat, cukup bersandarlah
Aku tahu kau lelah, jangan dengarkan aku
Bersandarlah seperti ini sampai kau nikmati indah,
Merasakan mimpi yang mengukir senyum, saat kumenoleh kearahmu
Tinggalkan risau, aku menggenggammu,
Cukupkah ini menguatkanmu?
Dunia dan obsesi membuatmu lelah
Mereka menguras tenaga dan fikiranmu
Ini yang kau bilang keras, hidup yang keras
lalu kau beranjak lupa, lupa waktu
Kau lupa waktu untuk sekedar tersenyum,
Lihatlah alismu, seperti itukah kau menyinari hari?
Kau lelah, bersandarlah.
Ceritakan padaku, perasaanmu, dan beratnya harimu.
Aku mendengarmu selalu.
Hentakkanlah meja itu, jika itu yang kau mau.
Berteriaklah, ataupun kau ingin menangis didepanku?
Jangan gentar, tanganku masi kuat menggenggamu
Kakiku masih tegak berdiri disapingmu
Dan senyumku akan slalu menjadi pelukan erat
Agar kau pulang untuk bersandar
Bersandarlah, aku tahu kau lelah