Kepada
Yth Bapak Pimpinan, betapaku menyaksikan setiap sesi gugatan yang melayang –
layang untuk hinggap dalam bagian hidupmu. Gugatan menjadi angin puyuh yang
memporak – porandakan perjuanganmu. Gugatan menjadi benalu, melekat bagai
kotoran baju. Gugatan menarikmu dalam beberapa sudut ruang. Mereka jadikanmu
familiar, dengan pelanggaran.
Tak
lama gugatan memilih dalang, dalang dalam masalah yang mungkin masih butuh
pengkajian. Tak lain adalah Bapak
pimpinan. Aku adalah public yang buta kebenaran. Walau kuraba dalam terang.
Lalu, otakku menyampaikan kejadian entah kulupa kapan. Di tahun sebelum kau
datang, dengan mata berkobar. Berperang melawan kejahatan. Kejadian dengan awal
yang sama, mereka entah siapa yang menjadikan ini center perbincangan. Tanpa si
Dalang tahu, siapa dan apa yang mereka katakan. Public menyatakan bahwa ini
kesalahan, Si Dalang pula berseru demikian. Namun, Si Dalang tak dipedulikan
dan familiar mendengar ketokan palu di pengadilan dengan kata yang kuhafal
yakni “bersalah”.
Entah
apa yang membuat si Dalang tiba tiba seakan tenggelam di lautan, perhatian
tentangnya tergeser oleh suatu kepentingan yan lebih mengguncangkan. Mereka
entah siapa membuat public tak kembali perhatian. Mereka suguhkan hujan agar
kami pergi dan menikmati nikmatnya segar. Mereka tawarkan segar diantara
panasnya kemarau. Kami lupa kau, dan tertarik dengan hujan segar. Mungkinkah
itu air matamu yang tak dipedulikan orang?, kau menangis dalam tawa beberapa
orang. Kau berikan mereka segar, udara segar. Biarpun kau, dibalik jeruji yang
dibenci banyak orang. Kurasa hujannya sangat deras, mungkin seperti kecewanya
hatimu pada keadilan.
Bapak
Pimpinan, kau adalah Dalang kedua yang membuat mereka kecewa. Kau dianggap
sebagai nahkoda yang tak tau kecepatan kapal, mereka bilang kapalmu bobrok.
Biarpun sebenarnya, merekalah yang menjadi kuman – kuman dan tangan – tangan
usil didalamnya. Lalu mereka katakan, karena kau Dalang. Mereka lalu
mendorongmu kelautan, menolongmu ke daratan, lalu membawamu pelan tenggelam.
Bapak
Pimpinan, ini hanyalah dinamika yang orang – orang hebat ciptakan. Orang –
orang hebat sedang membuka bukunya lalu menjadi kutu untuk bukunya sendiri.
Mereka menikmati menjadi kutu, bukan kutu buku. Mereka lantangkan teori seperti
penemu, mereka paparkan penelitian layaknya tahu lapangan. Sungguhku meragukan
keamanahan, dibalik seruan kutemukan kepulasan mereka tidur di bangku yang
nyaman. Mereka orang – orang makalah yang hanya membaca makalah, dan
menciptakannya. Mereka hanya berputar – putar didalamnya seperti mainan anak
kecil di taman. Atau apakah mereka bagian pemakainya? .
Bapak
Pimpinan, jangan kalah ini hanya permainan. Permainan dengan anak kecil yang
hafal dalam cara bermain. Anak kecil suka bermain, dan banyak diantaranya ingin
menang. Nikmatilah permainan anak kecil, sambutlah mereka dengan hangat. Mereka
butuh bermain untuk senang, biarpun mereka lupa bahwa dalam bermain pasti ada
tawa dan tangisan. Ada yang selamat dan jatuh di pertengahan, dan tak semua
anak kecil tahan untuk tak mengeluarkan tangisan.
Bapak
Pimpinan, taukah kau bahwa dalam hari – hari yang kau lalui kau temukan siang
dan malam. Kau rasakan panasnya matahari dan indahnya bintang saat gelap
datang. Itulah kehidupan, roda slalu berputar. Tuhan tak pernah ingkar atas
kenikmatan yang akan dirasakan bagi hambanya yang sabar. Tuhan juga tak pernah
lalai melihat perbuatan keji dan mungkar, bagi hambanya yang menjadi setan.
Jangan gentar, kembalilah menjadi pejuang. Buatlah matamu kembali berkobar
seperti saat kau jadi Pimpinan.
Berkobarlah
Pimpinan, kami tunggu aksimu lagi….

0 komentar:
Posting Komentar