Pages

Surat Untuk Matanya yang Tak Berkobar

Kamis, 31 Desember 2015

Kepada Yth Bapak Pimpinan, betapaku menyaksikan setiap sesi gugatan yang melayang – layang untuk hinggap dalam bagian hidupmu. Gugatan menjadi angin puyuh yang memporak – porandakan perjuanganmu. Gugatan menjadi benalu, melekat bagai kotoran baju. Gugatan menarikmu dalam beberapa sudut ruang. Mereka jadikanmu familiar, dengan pelanggaran.
Tak lama gugatan memilih dalang, dalang dalam masalah yang mungkin masih butuh pengkajian.  Tak lain adalah Bapak pimpinan. Aku adalah public yang buta kebenaran. Walau kuraba dalam terang. Lalu, otakku menyampaikan kejadian entah kulupa kapan. Di tahun sebelum kau datang, dengan mata berkobar. Berperang melawan kejahatan. Kejadian dengan awal yang sama, mereka entah siapa yang menjadikan ini center perbincangan. Tanpa si Dalang tahu, siapa dan apa yang mereka katakan. Public menyatakan bahwa ini kesalahan, Si Dalang pula berseru demikian. Namun, Si Dalang tak dipedulikan dan familiar mendengar ketokan palu di pengadilan dengan kata yang kuhafal yakni “bersalah”.
Entah apa yang membuat si Dalang tiba tiba seakan tenggelam di lautan, perhatian tentangnya tergeser oleh suatu kepentingan yan lebih mengguncangkan. Mereka entah siapa membuat public tak kembali perhatian. Mereka suguhkan hujan agar kami pergi dan menikmati nikmatnya segar. Mereka tawarkan segar diantara panasnya kemarau. Kami lupa kau, dan tertarik dengan hujan segar. Mungkinkah itu air matamu yang tak dipedulikan orang?, kau menangis dalam tawa beberapa orang. Kau berikan mereka segar, udara segar. Biarpun kau, dibalik jeruji yang dibenci banyak orang. Kurasa hujannya sangat deras, mungkin seperti kecewanya hatimu pada keadilan.
Bapak Pimpinan, kau adalah Dalang kedua yang membuat mereka kecewa. Kau dianggap sebagai nahkoda yang tak tau kecepatan kapal, mereka bilang kapalmu bobrok. Biarpun sebenarnya, merekalah yang menjadi kuman – kuman dan tangan – tangan usil didalamnya. Lalu mereka katakan, karena kau Dalang. Mereka lalu mendorongmu kelautan, menolongmu ke daratan, lalu membawamu pelan tenggelam.
Bapak Pimpinan, ini hanyalah dinamika yang orang – orang hebat ciptakan. Orang – orang hebat sedang membuka bukunya lalu menjadi kutu untuk bukunya sendiri. Mereka menikmati menjadi kutu, bukan kutu buku. Mereka lantangkan teori seperti penemu, mereka paparkan penelitian layaknya tahu lapangan. Sungguhku meragukan keamanahan, dibalik seruan kutemukan kepulasan mereka tidur di bangku yang nyaman. Mereka orang – orang makalah yang hanya membaca makalah, dan menciptakannya. Mereka hanya berputar – putar didalamnya seperti mainan anak kecil di taman. Atau apakah mereka bagian pemakainya? .
Bapak Pimpinan, jangan kalah ini hanya permainan. Permainan dengan anak kecil yang hafal dalam cara bermain. Anak kecil suka bermain, dan banyak diantaranya ingin menang. Nikmatilah permainan anak kecil, sambutlah mereka dengan hangat. Mereka butuh bermain untuk senang, biarpun mereka lupa bahwa dalam bermain pasti ada tawa dan tangisan. Ada yang selamat dan jatuh di pertengahan, dan tak semua anak kecil tahan untuk tak mengeluarkan tangisan.
Bapak Pimpinan, taukah kau bahwa dalam hari – hari yang kau lalui kau temukan siang dan malam. Kau rasakan panasnya matahari dan indahnya bintang saat gelap datang. Itulah kehidupan, roda slalu berputar. Tuhan tak pernah ingkar atas kenikmatan yang akan dirasakan bagi hambanya yang sabar. Tuhan juga tak pernah lalai melihat perbuatan keji dan mungkar, bagi hambanya yang menjadi setan. Jangan gentar, kembalilah menjadi pejuang. Buatlah matamu kembali berkobar seperti saat kau jadi Pimpinan.
Berkobarlah Pimpinan, kami tunggu aksimu lagi….

0 komentar:

Posting Komentar