Si kecil
tenanglah di Surga
Dunia
menangis dengan iba, saat tahu kau dikubur dan disalamkan telah ke neraka. Kami
tak tahu, bahwa sebelumnya kau tak mengenal tawa dunia. Kau habiskan pengertian
surga dengan sakitnya cambukan neraka. Selimutmu adalah api yang menyala –
nyala, dan nasehatmu adalah amarah dengan murka. Air lagi tak segar menyirami
tubuhmu yang terbakar, bahkan air membuat sakitnya kulitmu yang sedikit demi
sedikit meleleh dan taburan luka menjadi semakin pedih. Kau berteriak dengan
cucuran air mata yang membasahi pipi, mengharap ada tolong mengangkat tanganmu
dari lubang sandiwara ini.
Kau si kecil dengan kabar burung,
rupanya kau terselubung. Mereka berkata apa anakku tlah dikubur?, atau masih
merasakan makan bubur? , pesan dan air mata mereka tlah menyebarkan haru,
mereka selimutkan haru untuk tidur kami dengan mimpi kubur dan bubur. Salahkah jika
dunia mencari si kecil yang masih menjadi kabar burung? Simpati lalu datang
tanpa diundang. Simpati datang untuk memastikan kabar burung si kecil,
bersamaan dengan siulan – siulan syahdu dari bibir mungil mereka dalam sangkar,
sambil bernyanyi riang. “Biarkan kau pulang”.
Simpati tak mau henti, biarpun lampu
merah sudah memperingatkan, tapi sayang mereka mulai tak berkicau bertanya
kubur atau bubur. Mereka mulai seperti burung yang tak kerasan dalam sangkar, seperti kesepian. Mereka bilang, stress
kemudian, dan simpati tampak seperti maling maling yang perlu usiran. Mereka
enggan, dan mengatakan simpati menyedihkan.Tapi, sayang seribu sayang rupanya
simpati diminta menang, menang membuka kabar burung yang menebar. Kabar burung
yang membuat semua orang memukul dada, bercucuran iba, dan memaki siapa siapa.
Ternyata kabar tentang si kecil hanya panggung mungil sandiwara, yang
diciptakan mereka untuk menguji imajinasi dan karya cipta hati dan otak – otak
gila. Iya…mereka gila. Mereka tak tanyakan apakah anakku dikubur, ataupun makan
bubur. Mereka hanya menyampaikan, anakku biar kukubur dan biarkan semua menjadi
bubur.
Dunia tergonjang seperti merasakan
gempa, diantaranya menganga menyaksikan dengan mata si kecil yang memegang
boneka, dengan senyuman surga yang menyapa siapa saja yang melihatnya, menutup
mata. Si kecil sudah lemah tak berdaya, terkubur di belakang istana, tertutup
tanah – tanah kering dan kotoran kotoran hewan yang bertengger ataupun lewat
diatasnya, Mungkin sudah kau lihat surga, diatas langit dan awan awan putih
ditas sana. Sungguh Malang kau didunia. Dengan usiamu yang masih tak tahu apa –
apa , mungkinkah kau merasakan tangan tangan yang memegangmu mesra? Atau hanya
sekedar maya?. Ku dengar kau pernah bahagia, dengan senyum senyum yang kulihat
dalam social media. Tapi, melihatmu memegang boneka dengan penuh luka, aku tahu
itu hanya bualan belaka. Kau si kecil yang menjadi artis dengan skenario
mereka.
Si kecil yang malang, jangan kau ada
lagi di dunia. Cukuplah kau yang sudah ada di surga. Ini kesalahan mereka
orangtua, yang lalai dan ingin harta. Yang haus ekonomi dunia. Salah kami
pemuda dan tetangga, yang tak pernah berani merangkulmu meski luka. Dustalah
hidup kami biarpun kami kuat di dunia.
Si kecil yang telah berbahagia,
tenanglah disurga ……

6 komentar:
5 Januari 2016 pukul 00.23
Bersajak a.b.a.b lha jd pantun.ekwkwkm. lanjutkan dek.aqbmendukungmu...
5 Januari 2016 pukul 00.23
Bersajak a.b.a.b lha jd pantun.ekwkwkm. lanjutkan dek.aqbmendukungmu...
6 Januari 2016 pukul 01.22
Hahahaha masih banyak belajar kak, makasih kak aufa jangan bosan mmbaca.
9 Januari 2016 pukul 08.09
Krn membaca sdh kayak nafas.. jd aq ta akan pernh bosen dlm membaca...mmbaca karya nya dek nita bs merefresh pengalaman bersastra...
9 Januari 2016 pukul 08.09
Krn membaca sdh kayak nafas.. jd aq ta akan pernh bosen dlm membaca...mmbaca karya nya dek nita bs merefresh pengalaman bersastra...
10 Januari 2016 pukul 03.01
Barakallah 😀
Posting Komentar