Pages

Rabu, 30 Desember 2015

Sepenggal Perpisahanan….

Hari ini tak kutanyakan lagi tentang kita.  Cinta ataupun rindu yang berada didalamnya. Bukan karna aku sudah pasrah. Mungkin karena aku yang lengah. Kecocokan menjadi peran diantara ini. Kau katakan semua berubah, lalu waktu menjadi masalah. Lagi lagi aku yang lengah. Aku menjadi topikmu hari ini. Iya, aku yang lengah. Rasanya aku menghafal setiap kata yang kau keluarkan untukku, biarpun pendengaranku berkompetisi dengan angin yang mengaung ngaung merusak iramamu. Suaramu bersaut sautan dengan ombak dan angin pantai. Tak bisa kulagi tatap matamu, biarkan kunikmati bayanganmu, yang dicipta dari sinar mentari.

Enggan kulihat merah matamu, kau marah padaku. Lalu kau sautkan pisah. Aku masih terlena dengan bayangmu, takut ini adalah kebenaran dari katamu. Aku benci perpisahan,terlebih ini denganmu. Tapi aku tak tahu apakah kau juga.

Kau mengutarakan alasan, aku lagi lagi diam. Kau genggam tanganku, kurasakan permohonan. Iya, kusadar kau tak ingin pulang bersamaku lagi. Baiklah, kumulai memberanikan diri menatapmu. Betapa jelas, wajah permohonan. Kau inginkan perpisahan. Rupanya cintamu sesederhana ini, hanya bertahan lalu diakhiri perpisahan. Dan kau sautkan kecocokan untuk alasan. Cintamu butuh alasan untuk tinggal ataupun pergi.

Tak kukatakan kuingin bertahan, karena aku mencintaimu lebih. Tak kukeluarkan kata kata, hanya anggukan untuk memperjelas keinginanmu. Kata kataku biarkan lunglai, aku tersenyum melihatmu. Untuk sekedar mengatakan baik baik saja. Kau juga. Senyuman kita bersama menerangi pantai. Lalu, kau katakan terimakasih sebagai penutupnya. Manis, akhir yang manis.

Aku mengangguk,tersenyum, dan tak sadar menggenggammu lebih erat. Kau tersentak, lalu perlahan melepas jari jarimu dalam genggaman. Mulai berjalan membelakangiku. Aku tak lagi melihat wajahmu, aku melihat punggungmu yang gagah penuh kebebasan. Kau pulang….

Sesingkat ini perpisahan, jauh lebih singkat dari panjangnya kenangan. Kita putus.

0 komentar:

Posting Komentar