Sepenggal Perpisahanan….
Hari
ini tak kutanyakan lagi tentang kita.
Cinta ataupun rindu yang berada didalamnya. Bukan karna aku sudah
pasrah. Mungkin karena aku yang lengah. Kecocokan menjadi peran diantara ini.
Kau katakan semua berubah, lalu waktu menjadi masalah. Lagi lagi aku yang
lengah. Aku menjadi topikmu hari ini. Iya, aku yang lengah. Rasanya aku
menghafal setiap kata yang kau keluarkan untukku, biarpun pendengaranku
berkompetisi dengan angin yang mengaung ngaung merusak iramamu. Suaramu bersaut
sautan dengan ombak dan angin pantai. Tak bisa kulagi tatap matamu, biarkan
kunikmati bayanganmu, yang dicipta dari sinar mentari.
Enggan
kulihat merah matamu, kau marah padaku. Lalu kau sautkan pisah. Aku masih
terlena dengan bayangmu, takut ini adalah kebenaran dari katamu. Aku benci
perpisahan,terlebih ini denganmu. Tapi aku tak tahu apakah kau juga.
Kau
mengutarakan alasan, aku lagi lagi diam. Kau genggam tanganku, kurasakan
permohonan. Iya, kusadar kau tak ingin pulang bersamaku lagi. Baiklah, kumulai
memberanikan diri menatapmu. Betapa jelas, wajah permohonan. Kau inginkan
perpisahan. Rupanya cintamu sesederhana ini, hanya bertahan lalu diakhiri
perpisahan. Dan kau sautkan kecocokan untuk alasan. Cintamu butuh alasan untuk
tinggal ataupun pergi.
Tak
kukatakan kuingin bertahan, karena aku mencintaimu lebih. Tak kukeluarkan kata
kata, hanya anggukan untuk memperjelas keinginanmu. Kata kataku biarkan
lunglai, aku tersenyum melihatmu. Untuk sekedar mengatakan baik baik saja. Kau
juga. Senyuman kita bersama menerangi pantai. Lalu, kau katakan terimakasih
sebagai penutupnya. Manis, akhir yang manis.
Aku
mengangguk,tersenyum, dan tak sadar menggenggammu lebih erat. Kau tersentak,
lalu perlahan melepas jari jarimu dalam genggaman. Mulai berjalan membelakangiku.
Aku tak lagi melihat wajahmu, aku melihat punggungmu yang gagah penuh
kebebasan. Kau pulang….
Sesingkat
ini perpisahan, jauh lebih singkat dari panjangnya kenangan. Kita putus.

0 komentar:
Posting Komentar