Pages

Dia yang Sendirian

Kamis, 07 Januari 2016


Kudengar kau mulai penat, mengusap keringat. Kau pertanyakan semangat, dimana akan kau dapat. Kau mulai mencari tempat untuk sekedar singgah, bermimpi indah, mengusir gundah dan lelah. Melupakan kesendirian di tengah hamparan duri – duri tajam kehidupan, yang siaga menusukmu saat kau lengah. Menunggu waktu kapan kau berada dalam cengkramannya.
Kesendirianmu adalah harapan. Kau terbiasa melawan panas dinginnya kehidupan. Sibuk berselimut sendiri dalam kedinginan, dan mencari angin saat panas datang. Kau tampak sepi dengan sendirian. Kau melakukan apapun yang kau sebut menyenangkan, tanpa kau sadar kau masih sendirian.
Tubuhmu menjadi pengorbanan akan dampaknya sendirian, kau mulai kurus kerontang. Seperti tanpa ada tangan – tangan memberimu suapan, biarpun hanya nasi segenggam. Lalu, kau dengar perkataan bahwa kau menyedihkan. Bukan kau menyedihkan, kau hanya kurang perhatian darinya yang kau harapkan.
Kesendirianmu pernah menjadi penantian, untuknya yang slalu kau ceritakan dengan sgala kebanggan. Perempuan yang bersamamu sepanjang jalan, yang kini terpisah ruang. Ruang yang kau sebut takdir kejam, yang mampu membuka peluang bagi perubahan. Perubahan yang menyedihkan, agar dia tak pulang dalam pangkuan.
Hari – harimu dilalui waktu yang berputar mundur, kau bergelut dengan kenangan. Kenangan dengan perempuan sepanjang jalan. Biarpun kau tak tahu, hatinya juga merindu walau hanya sebatas waktu. Kau dianggapnya hanya kenangan, namub kau melebihkan diq sebagai sumber kehidupan.
Kerelaan tak pernah jadi teman, kau gengsi tuk katakan bahwa kau tak ingin ditinggalkan. Kau menunggu dia sadar, dan kembali dalam pelukan biar itu tak pernah sampai. Lalu kau mengakrabkan diri bersahabat dengan sendirian.
Kau terus menyalahkannya yang tak kembali ke pangkuan. Dia bukan lagi sumber kehidupan yang kau dambakan, kau tempatkannya sebagai sumber amarah dari setiap batu – batu yang menghadangmu di jalan. Lalu kau katakan, tak sediakan pangkuan biarpun dia pulang. Kau tetap ingin sendirian, mengusap keringat membayar alasan dari kepergiannya meninggalkan pangkuan.
 Hidupmu lontang lantung tak karuan, kau beranikan menjual kebahagiaan mengambil resiko laba rugi menjadi bagian. Kau jadikan hidupmu sibuk, dengan hati yang slalu berantakan. Kau menjajah dirimu sendiri, menjadikan diri dua bagian sebagai punggawa dan tenaga rodi dalam bekerja. Hanya untuk membayar alasan, untuk sebuah bukti diri dan pebgakuan, bahwa kau lelaki yang mampu membeli alasan kepergiaanya dalam pangkuan.
Kau pernah mencari bahu sebagai sandaran, tapi sayang tak ada yang sesuai keinginan. Mereka hanya layak dijadikan bekal makan siang untuk mengisi tenaga yang hilang. Mereka tak mampu tinggal menjadi sumber kehidupan. Dan kau slalu katakan, kau pantas sendirian.
Kabut slalu datang biar tak diundang. Kau butuhkan rumah untuk pulang. Namun, baru selangkah kau sampai mengucap salam, kabut telah menggelapkan pemandangan. Rumah ternyata tak lagi juga ramah, untuk hanya sekedar singgah biarpun kau tak betah. Raungan – raungan mulut bertentangan menjadi makanan, biarpun terlihat samar apa yang tampak dibelakang. Tak ada ketenangan, biar hanya tidur sebentar. Raungan – raungan kembali menambahkan tinta – tinta di hati, tanpa bibir mengucap pasti dari sakit hati. Lalu kau putuskan pergi, kau slalu ingin sendiri.
Sendiri menjadi kawan sejati, biarpun kau tampak tak senang hati. Tanpa berkata satu bait tampakan rapuhnya diri. Kau berteriak dalam hati, menangis di kala sepi. Kau pikul semua sendiri. Kau  bergegas pergi dikala pagi, kau habiskan hari bukan hanya sekedar demi sesuap nasi. Kau akrabkan diri dengan malam yang menggelapkan jarak pandang. Kau tetap berjalan, mengejar yang kau inginkan. Sendiri, demi  sesuatu yang ingin kau beli, yang akan kau miliki, nanti. Kau hanya laki – laki.

0 komentar:

Posting Komentar