Kudengar
kau mulai penat, mengusap keringat. Kau pertanyakan semangat, dimana akan kau
dapat. Kau mulai mencari tempat untuk sekedar singgah, bermimpi indah, mengusir
gundah dan lelah. Melupakan kesendirian di tengah hamparan duri – duri tajam
kehidupan, yang siaga menusukmu saat kau lengah. Menunggu waktu kapan kau
berada dalam cengkramannya.
Kesendirianmu
adalah harapan. Kau terbiasa melawan panas dinginnya kehidupan. Sibuk
berselimut sendiri dalam kedinginan, dan mencari angin saat panas datang. Kau
tampak sepi dengan sendirian. Kau melakukan apapun yang kau sebut menyenangkan,
tanpa kau sadar kau masih sendirian.
Tubuhmu
menjadi pengorbanan akan dampaknya sendirian, kau mulai kurus kerontang.
Seperti tanpa ada tangan – tangan memberimu suapan, biarpun hanya nasi
segenggam. Lalu, kau dengar perkataan bahwa kau menyedihkan. Bukan kau
menyedihkan, kau hanya kurang perhatian darinya yang kau harapkan.
Kesendirianmu
pernah menjadi penantian, untuknya yang slalu kau ceritakan dengan sgala
kebanggan. Perempuan yang bersamamu sepanjang jalan, yang kini terpisah ruang.
Ruang yang kau sebut takdir kejam, yang mampu membuka peluang bagi perubahan.
Perubahan yang menyedihkan, agar dia tak pulang dalam pangkuan.
Hari
– harimu dilalui waktu yang berputar mundur, kau bergelut dengan kenangan.
Kenangan dengan perempuan sepanjang jalan. Biarpun kau tak tahu, hatinya juga
merindu walau hanya sebatas waktu. Kau dianggapnya hanya kenangan, namub kau
melebihkan diq sebagai sumber kehidupan.
Kerelaan
tak pernah jadi teman, kau gengsi tuk katakan bahwa kau tak ingin ditinggalkan.
Kau menunggu dia sadar, dan kembali dalam pelukan biar itu tak pernah sampai.
Lalu kau mengakrabkan diri bersahabat dengan sendirian.
Kau
terus menyalahkannya yang tak kembali ke pangkuan. Dia bukan lagi sumber
kehidupan yang kau dambakan, kau tempatkannya sebagai sumber amarah dari setiap
batu – batu yang menghadangmu di jalan. Lalu kau katakan, tak sediakan pangkuan
biarpun dia pulang. Kau tetap ingin sendirian, mengusap keringat membayar
alasan dari kepergiannya meninggalkan pangkuan.
Hidupmu lontang lantung tak karuan, kau
beranikan menjual kebahagiaan mengambil resiko laba rugi menjadi bagian. Kau
jadikan hidupmu sibuk, dengan hati yang slalu berantakan. Kau menjajah dirimu
sendiri, menjadikan diri dua bagian sebagai punggawa dan tenaga rodi dalam
bekerja. Hanya untuk membayar alasan, untuk sebuah bukti diri dan pebgakuan,
bahwa kau lelaki yang mampu membeli alasan kepergiaanya dalam pangkuan.
Kau
pernah mencari bahu sebagai sandaran, tapi sayang tak ada yang sesuai
keinginan. Mereka hanya layak dijadikan bekal makan siang untuk mengisi tenaga
yang hilang. Mereka tak mampu tinggal menjadi sumber kehidupan. Dan kau slalu
katakan, kau pantas sendirian.
Kabut
slalu datang biar tak diundang. Kau butuhkan rumah untuk pulang. Namun, baru
selangkah kau sampai mengucap salam, kabut telah menggelapkan pemandangan.
Rumah ternyata tak lagi juga ramah, untuk hanya sekedar singgah biarpun kau tak
betah. Raungan – raungan mulut bertentangan menjadi makanan, biarpun terlihat
samar apa yang tampak dibelakang. Tak ada ketenangan, biar hanya tidur
sebentar. Raungan – raungan kembali menambahkan tinta – tinta di hati, tanpa
bibir mengucap pasti dari sakit hati. Lalu kau putuskan pergi, kau slalu ingin
sendiri.
Sendiri
menjadi kawan sejati, biarpun kau tampak tak senang hati. Tanpa berkata satu
bait tampakan rapuhnya diri. Kau berteriak dalam hati, menangis di kala sepi.
Kau pikul semua sendiri. Kau bergegas pergi dikala pagi, kau habiskan
hari bukan hanya sekedar demi sesuap nasi. Kau akrabkan diri dengan malam yang
menggelapkan jarak pandang. Kau tetap berjalan, mengejar yang kau inginkan.
Sendiri, demi sesuatu yang ingin kau beli, yang akan kau miliki, nanti.
Kau hanya laki – laki.

0 komentar:
Posting Komentar