Pages

0 Pemenang

Sabtu, 30 Januari 2016

Bagaimana perasaanmu, hari ini?.
Apakah kau merasakan sebuah kemerdekaan?
Sudahlah kau tertawa bebas di udara, merentangkan tanganmu setinggi awan?
Sambil kau ingat wajah bodoh itu.
Sesekali senyumnya kau tertawakan, bahkan kau hina
Sudah hinakah dia untukmu?
Dengan segala ketulusannya, yang kau tukar dengan rasa pahit
Sudahkah kau jatuhkan air matanya, yang mampu menemani rintik hujan
Bersamaan dengan kelamnya kecewa yang akan bersama gelapnya malam
Adakah kau merasa gagah saat ini?
Bijak kah kau dengan hinanya orang bodoh itu
Dengan segala harap yang ia gantungkan padamu
Keberanian yang ia percayakan di punggungmu
Lalu, hinakah ia lagi dengan kelalaiannya?
Dengan harapannya?

...........

0 Perempuan dan matahari

Selasa, 19 Januari 2016

Senja menemani tanya, dari pikirannya yang menganga. Hatinya yang tak pernah singgah, namun ikut bertanya.

Mulutku kemudian bercerita, tentang perempuan perempuan yang memuja, dan menunggu nirwana. Untuk dapat jatuh tepat didepan mata mereka. Maka dengan itulah mereka berdiri disana, menanti sunset dan sunrise setiap harinya.

Lagi kau bertanya, mengapa harus matahari yang menjadi obyeknya?

Disinilah matahari berlaku tak sopan, dengan gravitasinya, monster gravitasi, ia menarik dan membuat tertarik. Pada setiap apapun yang mendekat. Layaknya menelan merkurius dan venus dikala ia ingin.

Adakah yang ingkar pada sebutan sang surya, diatas segala manfaatnya. Dibalik mudharatnya, bukankah ia tercipta untuk membunuh lorong lorong kosong makhluk alam jagat raya. Menghibur hati sang ratu dari gundah. Begitulah ratu memilih obatnya.

~Nat

0 Kencan Kala Itu

Ada waktu dimana aku meminta bertemu. Untuk sebuah kencan, yang tak banyak tahu. Gelap menjadi latar kebersamaan kita saat itu. Dalam waktu 1/3 malam bersamaMu.

Diam menjadi kata kata, kencan kala itu. Entah bagaimana Engkau paham maksutku, namun Kau Maha Tahu atas aku. Diam menjadi romantis, lalu kusapa gerimis membasahi sajadah dan tasbih.

Napasku semakin memburu bersamaan dengan menyebut namaMu. Harap Kau dengar bahwa hati meminta petunjukMu, Sang Maha Tahu. Dari kencan malam itu.

Kurasa saat itu, kasihMu membelaiku. Di sepertiga itu Kau memelukku, mengusir getir yang menjadi ragu mengganggu. Hangat berikut serta, memanggil harap. Dari patahnya sayap. Dan genggaman itu memporak porandakan diri yang lalu, menjadi baru.

Adakah yang lebih romantis dari kencan kala itu?

~Nat

0 Bekal Makan Siang

Minggu, 10 Januari 2016
Deru  suara menjadi pertanda, kau lapar dan sedang tersiksa dahaga. Kau butuhkan bekal untuk membunuh siksa.  Layaknya perut dan kerongkongan kau manja dan meminta minta. Berharap hampa tak menjadi durjana, meminta muara untuk kekeringan yang sedang melanda. Bercita cita tak rasakan bunyian keroncongan, untuk masa masa selanjutnya.
Siang menjadi badai yang kau takutkan. Teriknya matahari kau katakan menusuk tulang – tulang, mencucurkan keringat, dan menebarkan bau badan yang menyengat. Siang tak lagi hangat. Siang kenapa menyengat?. Menghisap tenaga sampai tulang belulang, seperti anjing yang kelaparan. Lalu, kau minta adanya bekal agar kau tak lemah melawan musuh yang dinamakan siang.
Bekal makan siang, begitu kau ucapkan. Kau mencari bekal makan siang apa yang tak membuatmu bosan. Bekal yang memudahkan, jika kau terhimpit waktu dan kesibukan untuk siksa siang yang datang.
Bekal makan siang menjadi santapan, untuk memanggil tenaga yang hilang dimakan siang. Bekal makan siang kau sayang – sayang, kau jadikan harapan, andalan melawan siang. Kau sombongkan pada siang, membuktikan kau telah mampu melawan.
Sayang, bekal siang tak selalu enak dimakan. Begitu pula dipandang, bila suasana kau katakan tak sesuai. Bekal makan siang, tak mampu bertahan untuk gelap yang datang, yang membutakanmu saat malam. Bekal makan siang, akan basi dimakan waktu. Hanya mampu jadi batu, yang siap kau lemparkan jika lupa kau makan dan kau pandang tak mengenakkan.        

Ini hanya bekal makan siang….

3 Perempuan Sepanjang Jalan

Jumat, 08 Januari 2016
Telah kulalui separuh hidup dengannya yang berani mencintai. Apa daya aku hanya mampu pergi, malah tak pernah berbalas budi. Sungguh manis hari dengannya pujangga hati. Hari – hari yang kini telah mampu kukubur demi mimpi yang lain lagi. Aku  beranikan mengubur rindu dan hati yang utuh demi yang lebih pasti. Masa depan yang terus menghantui. Bisakah kuminta kau, untuk tak gusar saat aku tak ada lagi.
          Kita pernah bersama dalam suka dan duka, biarpun sekarang telah menjadi dusta. Musim tropis di negeri ini telah membuat kita mengukir banyak cerita, mengulang kemarau dan musim hujan. Bersantai saat kemarau, dan berlarian saat hujan. Bahkan tak jarang, kita terpeleset dan saling menertawakan. Begitulah, sebelum dusta datang.
Pangkuan menjadi andalan, saat ku pulang bercerita, dan merengek untuk dimanja. Kau yang mencintaiku, tanpa kuminta menyediakan pangkuan agar aku bebas berceloteh tentang keburukan keburukan hari yang menghantamku saat itu. Dengan senyum dan belaian pada rambut, kau setia menemani biarpun volume suaraku tak tahu diri, seakan siap menghantam gendang telingamu. Kau tak pernah sedikitpun terganggu, biarpun aku mengganggu.
          Perempuan ini, masih jelas mengingat, tajamnya mata elang yang kau suguhkan. Kau tak pernah lupa betapa aku suka dimanja. Kau berikan bait – bait nyanyian cinta, agar menemaniku saat kau tak ada. Kau sibuk bekerja, untuk mencapai masa depan kita berdua. Kita pernah bermimpi tentang bangunan rumah, berbeda saat berpendapat tentang rumah dan perbotan, tentang warna dan gayanya. Lalu kita berselisih, dan aku slalu merengek untuk menang, kau slalu saja mengiyakan.
          Aku hanya seorang perempuan yang tak pernah luput dari rasa ingin diperhatikan. Kau suka menyuguhkanku alam agar menikmati hidup yang tak sebentar. Desiran angin pantai kau percaya akan memanjakan emosiku. Beratap langit, dan beralas pasir berdua dengan dimanja angin kita melupakan hiruk pikuk hidup kota. Bercengkrama seakan hari tak kan pernah terganti, lupa bahwa matahari ada saatnya menenggelamkan diri. Mengejek dan berlomba berteriak di tengah pantai, berharap Tuhan mendengarkan tentang takdir yang kita harapkan.
          Aku perempuan yang menemanimu tak kenal waktu. Kau slalu menggandengku dimanapun jalan kita tempuh berdua, kau bercerita dengan gagah pada dunia tentang perempuan yang bergandeng tangan denganmu di sepanjang jalan. Kau katakan tak kan pernah takut ditusuk parang, biarpun dari belakang, asal mati di genggaman orang yang kau sayang.
Perempuan manja dan perengek seperti ini yang kau sayang? Pernah kutanya demikian. Kau hanya mampu tersenyum memandangiku, dengan pelangi yang kulihat dari sorot matamu. Betapa kulihat kau seorang yang gila, mencintaiku sepenuhnya. Seakan aku adalah hidup dan matimu, biar kau tak tahu bagaimana takdir berbicara pada kita. Tentang kita.
Takdir menunggu waktu, untukku dan untukmu demi memberitahu kabar baru. Kabar baru yang membawaku tak kembali dalam pangkuanmu, dan membiarkanmu menjadi sendirian. Sendirian akan menggandengmu, entah apakah kau akan membanggakannya seperti aku?, dan akhirnya kau tahu perempuan yang kau puja ini, ternyata hanya mampu pergi dengan tak tahu diri, pergi hanya untuk alasan yang mampu kau beli. Aku rindu namun hanya sebatas waktu. Maafkan aku lelaki …        

0 Dia yang Sendirian

Kamis, 07 Januari 2016


Kudengar kau mulai penat, mengusap keringat. Kau pertanyakan semangat, dimana akan kau dapat. Kau mulai mencari tempat untuk sekedar singgah, bermimpi indah, mengusir gundah dan lelah. Melupakan kesendirian di tengah hamparan duri – duri tajam kehidupan, yang siaga menusukmu saat kau lengah. Menunggu waktu kapan kau berada dalam cengkramannya.
Kesendirianmu adalah harapan. Kau terbiasa melawan panas dinginnya kehidupan. Sibuk berselimut sendiri dalam kedinginan, dan mencari angin saat panas datang. Kau tampak sepi dengan sendirian. Kau melakukan apapun yang kau sebut menyenangkan, tanpa kau sadar kau masih sendirian.
Tubuhmu menjadi pengorbanan akan dampaknya sendirian, kau mulai kurus kerontang. Seperti tanpa ada tangan – tangan memberimu suapan, biarpun hanya nasi segenggam. Lalu, kau dengar perkataan bahwa kau menyedihkan. Bukan kau menyedihkan, kau hanya kurang perhatian darinya yang kau harapkan.
Kesendirianmu pernah menjadi penantian, untuknya yang slalu kau ceritakan dengan sgala kebanggan. Perempuan yang bersamamu sepanjang jalan, yang kini terpisah ruang. Ruang yang kau sebut takdir kejam, yang mampu membuka peluang bagi perubahan. Perubahan yang menyedihkan, agar dia tak pulang dalam pangkuan.
Hari – harimu dilalui waktu yang berputar mundur, kau bergelut dengan kenangan. Kenangan dengan perempuan sepanjang jalan. Biarpun kau tak tahu, hatinya juga merindu walau hanya sebatas waktu. Kau dianggapnya hanya kenangan, namub kau melebihkan diq sebagai sumber kehidupan.
Kerelaan tak pernah jadi teman, kau gengsi tuk katakan bahwa kau tak ingin ditinggalkan. Kau menunggu dia sadar, dan kembali dalam pelukan biar itu tak pernah sampai. Lalu kau mengakrabkan diri bersahabat dengan sendirian.
Kau terus menyalahkannya yang tak kembali ke pangkuan. Dia bukan lagi sumber kehidupan yang kau dambakan, kau tempatkannya sebagai sumber amarah dari setiap batu – batu yang menghadangmu di jalan. Lalu kau katakan, tak sediakan pangkuan biarpun dia pulang. Kau tetap ingin sendirian, mengusap keringat membayar alasan dari kepergiannya meninggalkan pangkuan.
 Hidupmu lontang lantung tak karuan, kau beranikan menjual kebahagiaan mengambil resiko laba rugi menjadi bagian. Kau jadikan hidupmu sibuk, dengan hati yang slalu berantakan. Kau menjajah dirimu sendiri, menjadikan diri dua bagian sebagai punggawa dan tenaga rodi dalam bekerja. Hanya untuk membayar alasan, untuk sebuah bukti diri dan pebgakuan, bahwa kau lelaki yang mampu membeli alasan kepergiaanya dalam pangkuan.
Kau pernah mencari bahu sebagai sandaran, tapi sayang tak ada yang sesuai keinginan. Mereka hanya layak dijadikan bekal makan siang untuk mengisi tenaga yang hilang. Mereka tak mampu tinggal menjadi sumber kehidupan. Dan kau slalu katakan, kau pantas sendirian.
Kabut slalu datang biar tak diundang. Kau butuhkan rumah untuk pulang. Namun, baru selangkah kau sampai mengucap salam, kabut telah menggelapkan pemandangan. Rumah ternyata tak lagi juga ramah, untuk hanya sekedar singgah biarpun kau tak betah. Raungan – raungan mulut bertentangan menjadi makanan, biarpun terlihat samar apa yang tampak dibelakang. Tak ada ketenangan, biar hanya tidur sebentar. Raungan – raungan kembali menambahkan tinta – tinta di hati, tanpa bibir mengucap pasti dari sakit hati. Lalu kau putuskan pergi, kau slalu ingin sendiri.
Sendiri menjadi kawan sejati, biarpun kau tampak tak senang hati. Tanpa berkata satu bait tampakan rapuhnya diri. Kau berteriak dalam hati, menangis di kala sepi. Kau pikul semua sendiri. Kau  bergegas pergi dikala pagi, kau habiskan hari bukan hanya sekedar demi sesuap nasi. Kau akrabkan diri dengan malam yang menggelapkan jarak pandang. Kau tetap berjalan, mengejar yang kau inginkan. Sendiri, demi  sesuatu yang ingin kau beli, yang akan kau miliki, nanti. Kau hanya laki – laki.