Deru suara menjadi pertanda, kau lapar dan sedang
tersiksa dahaga. Kau butuhkan bekal untuk membunuh siksa. Layaknya perut dan kerongkongan kau manja dan
meminta minta. Berharap hampa tak menjadi durjana, meminta muara untuk
kekeringan yang sedang melanda. Bercita cita tak rasakan bunyian keroncongan,
untuk masa masa selanjutnya.
Siang
menjadi badai yang kau takutkan. Teriknya matahari kau katakan menusuk tulang –
tulang, mencucurkan keringat, dan menebarkan bau badan yang menyengat. Siang
tak lagi hangat. Siang kenapa menyengat?. Menghisap tenaga sampai tulang
belulang, seperti anjing yang kelaparan. Lalu, kau minta adanya bekal agar kau
tak lemah melawan musuh yang dinamakan siang.
Bekal
makan siang, begitu kau ucapkan. Kau mencari bekal makan siang apa yang tak
membuatmu bosan. Bekal yang memudahkan, jika kau terhimpit waktu dan kesibukan
untuk siksa siang yang datang.
Bekal
makan siang menjadi santapan, untuk memanggil tenaga yang hilang dimakan siang.
Bekal makan siang kau sayang – sayang, kau jadikan harapan, andalan melawan
siang. Kau sombongkan pada siang, membuktikan kau telah mampu melawan.
Sayang,
bekal siang tak selalu enak dimakan. Begitu pula dipandang, bila suasana kau katakan
tak sesuai. Bekal makan siang, tak mampu bertahan untuk gelap yang datang, yang
membutakanmu saat malam. Bekal makan siang, akan basi dimakan waktu. Hanya
mampu jadi batu, yang siap kau lemparkan jika lupa kau makan dan kau pandang
tak mengenakkan.
Ini
hanya bekal makan siang….

0 komentar:
Posting Komentar