Pages

Bekal Makan Siang

Minggu, 10 Januari 2016
Deru  suara menjadi pertanda, kau lapar dan sedang tersiksa dahaga. Kau butuhkan bekal untuk membunuh siksa.  Layaknya perut dan kerongkongan kau manja dan meminta minta. Berharap hampa tak menjadi durjana, meminta muara untuk kekeringan yang sedang melanda. Bercita cita tak rasakan bunyian keroncongan, untuk masa masa selanjutnya.
Siang menjadi badai yang kau takutkan. Teriknya matahari kau katakan menusuk tulang – tulang, mencucurkan keringat, dan menebarkan bau badan yang menyengat. Siang tak lagi hangat. Siang kenapa menyengat?. Menghisap tenaga sampai tulang belulang, seperti anjing yang kelaparan. Lalu, kau minta adanya bekal agar kau tak lemah melawan musuh yang dinamakan siang.
Bekal makan siang, begitu kau ucapkan. Kau mencari bekal makan siang apa yang tak membuatmu bosan. Bekal yang memudahkan, jika kau terhimpit waktu dan kesibukan untuk siksa siang yang datang.
Bekal makan siang menjadi santapan, untuk memanggil tenaga yang hilang dimakan siang. Bekal makan siang kau sayang – sayang, kau jadikan harapan, andalan melawan siang. Kau sombongkan pada siang, membuktikan kau telah mampu melawan.
Sayang, bekal siang tak selalu enak dimakan. Begitu pula dipandang, bila suasana kau katakan tak sesuai. Bekal makan siang, tak mampu bertahan untuk gelap yang datang, yang membutakanmu saat malam. Bekal makan siang, akan basi dimakan waktu. Hanya mampu jadi batu, yang siap kau lemparkan jika lupa kau makan dan kau pandang tak mengenakkan.        

Ini hanya bekal makan siang….

0 komentar:

Posting Komentar