Telah
kulalui separuh hidup dengannya yang berani mencintai. Apa daya aku hanya mampu
pergi, malah tak pernah berbalas budi. Sungguh manis hari dengannya pujangga
hati. Hari – hari yang kini telah mampu kukubur demi mimpi yang lain lagi. Aku beranikan mengubur rindu dan hati yang utuh
demi yang lebih pasti. Masa depan yang terus menghantui. Bisakah kuminta kau,
untuk tak gusar saat aku tak ada lagi.
Kita pernah bersama dalam suka dan
duka, biarpun sekarang telah menjadi dusta. Musim tropis di negeri ini telah
membuat kita mengukir banyak cerita, mengulang kemarau dan musim hujan.
Bersantai saat kemarau, dan berlarian saat hujan. Bahkan tak jarang, kita
terpeleset dan saling menertawakan. Begitulah, sebelum dusta datang.
Pangkuan
menjadi andalan, saat ku pulang bercerita, dan merengek untuk dimanja. Kau yang
mencintaiku, tanpa kuminta menyediakan pangkuan agar aku bebas berceloteh
tentang keburukan keburukan hari yang menghantamku saat itu. Dengan senyum dan
belaian pada rambut, kau setia menemani biarpun volume suaraku tak tahu diri, seakan siap menghantam gendang
telingamu. Kau tak pernah sedikitpun terganggu, biarpun aku mengganggu.
Perempuan ini, masih jelas mengingat,
tajamnya mata elang yang kau suguhkan. Kau tak pernah lupa betapa aku suka
dimanja. Kau berikan bait – bait nyanyian cinta, agar menemaniku saat kau tak
ada. Kau sibuk bekerja, untuk mencapai masa depan kita berdua. Kita pernah
bermimpi tentang bangunan rumah, berbeda saat berpendapat tentang rumah dan
perbotan, tentang warna dan gayanya. Lalu kita berselisih, dan aku slalu
merengek untuk menang, kau slalu saja mengiyakan.
Aku hanya seorang perempuan yang tak
pernah luput dari rasa ingin diperhatikan. Kau suka menyuguhkanku alam agar
menikmati hidup yang tak sebentar. Desiran angin pantai kau percaya akan
memanjakan emosiku. Beratap langit, dan beralas pasir berdua dengan dimanja
angin kita melupakan hiruk pikuk hidup kota. Bercengkrama seakan hari tak kan
pernah terganti, lupa bahwa matahari ada saatnya menenggelamkan diri. Mengejek
dan berlomba berteriak di tengah pantai, berharap Tuhan mendengarkan tentang
takdir yang kita harapkan.
Aku perempuan yang menemanimu tak
kenal waktu. Kau slalu menggandengku dimanapun jalan kita tempuh berdua, kau
bercerita dengan gagah pada dunia tentang perempuan yang bergandeng tangan denganmu
di sepanjang jalan. Kau katakan tak kan pernah takut ditusuk parang, biarpun
dari belakang, asal mati di genggaman orang yang kau sayang.
Perempuan
manja dan perengek seperti ini yang kau sayang? Pernah kutanya demikian. Kau
hanya mampu tersenyum memandangiku, dengan pelangi yang kulihat dari sorot
matamu. Betapa kulihat kau seorang yang gila, mencintaiku sepenuhnya. Seakan
aku adalah hidup dan matimu, biar kau tak tahu bagaimana takdir berbicara pada
kita. Tentang kita.
Takdir menunggu waktu, untukku dan untukmu demi memberitahu kabar baru. Kabar baru yang membawaku tak kembali dalam pangkuanmu, dan membiarkanmu menjadi sendirian. Sendirian akan menggandengmu, entah apakah kau akan membanggakannya seperti aku?, dan akhirnya kau tahu perempuan yang kau puja ini, ternyata
hanya mampu pergi dengan tak tahu diri, pergi hanya untuk alasan yang mampu kau
beli. Aku rindu namun hanya sebatas waktu. Maafkan
aku lelaki …

3 komentar:
9 Januari 2016 pukul 08.06
Karena alasan seorang lelaki utk mencintai bahkan menyayangi itu bisa terasa dan akan lebh trasa jika sdh tdk berada disampingnya...kadang tdk btuh alasan utk knp mencintai dan knapa menyayangi... semua kyk arus air d sungai.. kdg santai kdg deres..kdg bisa turbulen berputar tpi ujungnya hnya 1.. berujung muara ke 1 titik... yaitu hati dri wanitabyg dia pilih utk dicintai
9 Januari 2016 pukul 08.06
Karena alasan seorang lelaki utk mencintai bahkan menyayangi itu bisa terasa dan akan lebh trasa jika sdh tdk berada disampingnya...kadang tdk btuh alasan utk knp mencintai dan knapa menyayangi... semua kyk arus air d sungai.. kdg santai kdg deres..kdg bisa turbulen berputar tpi ujungnya hnya 1.. berujung muara ke 1 titik... yaitu hati dri wanitabyg dia pilih utk dicintai
10 Januari 2016 pukul 02.58
Tepat sekali, lelaki memilih lalu dipili, wanita dipilih lalu memilih. Tidak general, namun banyak yg demikian
Posting Komentar