Pages

Kamis, 31 Desember 2015




Nenek yang Kusayang
Ingatanku masih terlena tentangmu nek. Setelah berapa tahun kau pergi dan menapaki alam yang tak kuketahui. Senyummu masih membekas, rasa cintamu masih terasa. Kau nenek yang kusayang…

Biar ku bernostalgia, tentang hari yang kita habiskan berdua. Tentang malam yang penuh belaian. Siang yang ramai dengan celotehku dan ocehanmu. Kau berikan aku boneka .Lalu kau berdagang. Kau berpeluh untuk menghasilkan uang, agar aku bisa makan. Tak luput kau siapkan, makanan dengan sajian yang kudamba. Kau ingin berbagi segala suka dan kau menenggelamkan diri dalam duka. Dan aku hanya si kecil yang tak tahu apa apa.
Nenek ingatkah kau, aku suka saat kau menyisir rambutku yang panjang. Tak lupa kau usapkan minyak rambut yang tak kusuka. Aku cukup tersiksa, kau slalu membelai rambutku. Menyisirnya dengan rapi, dan kau pakaikan aku baju baju yang kusuka, aku mengomentarinya lucu dan kau tertawa.

Kau berpesan, bersih adalah sebagian dari iman. Kau benci aku kotor. Kau slalu menjagaku, agar aku terlihat cantik nan indah. Kau jaga aku bagai permata. Aku mahal untukmu Nek. 

Nenek, saat itu aku tak tahu apa itu cinta. Yang kutahu hanya memelukmu itu terasa hangat diraga. Kau wanita dengan sejuta kelembutan dijiwa. Anggun perangaimu bak laksana bidadari bulan. Cintamu dalam diam, namun terasa kuat menggenggam. 

Aku pernah katakan, kau nenek dengan sejuta kata jangan. Tapi, sekarang kusadar. Bahwa itulah tanda sayang. Kau mengkhawatirkanku dengan air mata yang kau simpan. Dengan itu kau tunjukkan.

Andai ku banyak mengingat dengan sempurna tentang kita, tentang bagaimana sentuhanmu terus membesarkanku. Kau jadikan aku bintang kecil yang bersinar terang, laksana Sirius yang dipuja banyak orang. Biarpun aku hidup terkekang.

Nenek yang kusayang, betapa aku tercabik melihatmu lunglai dengan penyakit. Ku sempat tanyakan pada Tuhan, mengapa nenek tak kunjung baik. Aku penuh harap, kau tak pulang. Tapi apa daya takdir sudah tertuliskan dan aku sendirian.

Ragamu kini tak kulihat, tapi cinta kasihmu membekas. Aku masih merasakan lembutnya kasih yang kau tinggalkan. Tak ada benci tak ada caci yang ingin kuberikan. Hanya kuingin sampaikan, terimakasih yang mendalam. Untuk nenek yang kusayang….

4 komentar:

Unknown Says:
9 Januari 2016 pukul 08.07

Besok kalo qt jd nenek kakaek.
Hendaknu mjd seorng nenek dan kakek yg valuable... berharga d keluarga.. dipandang tdk sebelah mata... dan bs selalu trkenang walau raga dan jiwa sdh tdk d dunia.

Unknown Says:
9 Januari 2016 pukul 08.08

Besok kalo qt jd nenek kakaek.
Hendaknu mjd seorng nenek dan kakek yg valuable... berharga d keluarga.. dipandang tdk sebelah mata... dan bs selalu trkenang walau raga dan jiwa sdh tdk d dunia.

Unknown Says:
9 Januari 2016 pukul 08.08

Besok kalo qt jd nenek kakaek.
Hendaknu mjd seorng nenek dan kakek yg valuable... berharga d keluarga.. dipandang tdk sebelah mata... dan bs selalu trkenang walau raga dan jiwa sdh tdk d dunia.

Tintatintaku Says:
10 Januari 2016 pukul 03.00

Amin Ya Rabbal Alamin, semoga. Semangat kak aufa

Posting Komentar