Pages

0 Lalu aku bisa apa?

Selasa, 27 Desember 2016

Kamu tidak akan tahu, bagaimana rasanya menjadi aku? Dan aku harap kamu tidak akan pernah menjadi aku. Kamu harus bahagia. Dan seperti yang kuinginkan, kamu terlihat bahagia malam ini.Kau dengan bersemangat bercerita banyak hal,suaramu berlomba dengan musik di cafe ini. Tapi, pembicaraanmu cukup jelas, bahkan sangat jelas.

Tentang seorang perempuan yang akan bersamamu di masa depan. Ah, sepertinya aku tidak usah bertanya hal yang sudah jelas jawabannya. Seperti apa kau mencintai dia,Endra?. Matanya yang berbinar, dan semangatnya yang menyala sudah menjawab semuanya. Endra mencintainya, dia berkata "Mey, datanglah ke pernikahanku bulan depan. Silla sangat ingin berkenalan denganmu, aku banyak cerita tentang kita yang sangat akrab  sejak kecil. Kau berperan banyak dihidupku mey...datanglah kau tamu penting kami"

Perempuan memang terkadang suka menipu, iya seperti apa yang kulakukan saat ini. Menipu diri dan menipu orang terdekatku, berpura tidak ada yang terjadi di balik goncangan hatiku saat ini. Endra akan menikah, dan itulah takdirku saat bertemu kembali dengan Endra, setelah 5 tahun kami berpisah. Setelah kami lulus sma aku mendapat beasiswa kr luar negeri, tapi ternyata aku sendiri. Endra gagal dalam proses seleksi, dan hanya aku yang pergi. Endra menyemangatiku dan berjanji akan selalu menemaniku walaupun hanya berwujud tulisan yang ia buat sewaktu waktu. Kami rajin mengirim email satu sama lain, berbagi cerita tentang ini dan itu. Sampai pada akhirnya kami saling sibuk masing masing dan lama tak berjumpa lewat tulisan kembali.

Endra tak banyak berubah, dia tetap Endra yang baik, lembut, dan sopan. Tuhan, aku menyukainya. Endra. Tapi sekarang, Endra menikah!menikah!menikah!....Aku tersenyum manis di depannya, di depan Endra. Seolah olah aku bahagia, bahagia? Rasanya kantung airmataku penuh, tak sengaja aku meneteskan air mata. Endra mengernyirkan dahinya, tangannya memegang tanganku " Mey, aku tetap akan menjadi teman baikmu, aku bersyukur Tuhan telah memberikan sahabat sepertimu" . Andai Endra tahu, rasanya aku ingin menahan keinginannya saat itu. " Aku bahagia mendengarnya Endra, aku bersyukur" entah ini keluar bagaimana dari mulutku , mungkinlah hatiku mulai pasrah pada alam?

Endra masih memegang tanganku, " Mey, terimakasih sudah menjadi sahabat terbaik dalam hidupku, sejak ibu pergi kau dan keluargamu menjadi keluargaku juga, kalian sangat baik padaku. Setelah menikah, aku akan tetap jadi tetangga manismu, karena ayah membutuhkanku. Ayah bertanya tentangmu mey"

"Ayahmu pasti bersyukur dan bahagia Endra, dan aku yakin Silla perempuam yang tepat"

"Seperti biasa kau selalu percaya diri dengan perkataanmu" Endra menyilangkan kedua tangan didadanya dan bersandar di sofa cafe.

" Apa kau sudah siap berdebat denganku?" Jawabku sambil meneguk secangkir kopi.

Endra tersenyum, dan menutup mukanya dengan kedua tangannya. Lalu, tangannya menuju ke saku jasnya seperti mencari sesuatu. Tak lama undangan berwarna emas, dengan balutan pita merah diambilnya dan diletakkannya di atas meja. " Mey, kata Silla kau wajib datang, ayah juga ingin melihatmu di pesta kami. Saat ini Ayah masih sibuk dengan urusan kesehatannya. Ia dirawat di rumah Silla"

Oh...apa yang harus aku katakan pada Endra kecuali menerima apa yang dia minta. " Aku pasti datang Endra, pergilah kau pasti sibuk. Aku terima undanganmu dengan ikhlas ", Endra pergi setelah menjabat tanganku dan tersenyum kepadaku. Inilah terakhir aku memilikinya, yang sebenarnya aku tak pernah memilikinya dan tidak akan pernah. Tidak ada kata perpisahan darinya, hanya dari hatiku saja.

Dan jika tuhan menciptakan kamu untuk dia, lalu aku bisa apa?

0 Cara mencintaimu

Minggu, 25 Desember 2016

Langit tidak pernah meminta untuk di atas
Dan bumi tidak pernah menolak untuk diinjak
Dan perasaanku tidak pernah kuminta memilihmu
Aku yang tak pandai memperhitungkan

Jika saja semua ini adalah musim semi, maka akan terasa seperti musim gugur bagimu
Tak ada perayaan, hanya daun daun yang rontok dari pohonnya
Tergolong aku yang kering kerontang disana

Menjadi orang bodoh !
Dan itu pilihan
Bertanggungjawab sendirian,mengemban resiko yang tak diinginkan
Hidup ini kaku, terlebih saat mencintamu

Mencintaimu selalu membuatku rindu, aku benci
Karena ini membuatku semakin bisu didepanmu atau bodoh di depanku sendiri

Dan seberapapun celah yang ada diantara kita
Hanya ketidakmungkinan yang sangat nyata

Serta keikhlasan yang harusnya ada padaku

Cinta itu terkadang sederhana namun tatkala rumit saja
Tapi tidak bagi yang benar benar mencintai
Bagi mereka yang merasakannya dengan benar, tanpa sadar mengalahkan keegoisan dan luluh hanya untuk kebahagian yang terkadang bukan miliknya tapi untuk yang ia cintai

Mungkin seperti itulah mencintaimu

0 Menjadi orang bodoh

Jumat, 23 Desember 2016

Saat itu usiaku memang sudah belia
Tapi sayang aku tak peka
Katanya dari teman, akrab,lalu bisa ada perasaan suka
Aku hanya bertanya, memang iya?

Semua terasa biasa, saat pikiran kita tak sampai kesana
Biarpun si dia sudah berusaha, tapi bagaimana jika salah satunya diam saja
Usaha saja tak cukup membuat peka
Tapi, perlu ungkapan agar terlihat nyata

Jangan hanya memberikan kode dan signal signal yang maya....

0 Perbedaan

Aku menyukai sosial media
Kau menyukai buku buku tua
Tapi kita berbicara tentang hal yang sama
Yaitu "Kita"

0 Desember

Minggu, 04 Desember 2016

Pukul 10 malam, tanpa orang berlalu lalang
Dengan kamu dan deadline kerja yang masih dalam pikiran
Tak ada hari minggu, tak ada waktu biar hanya termangu
Desember yang padat,
Desember yang penat

0 Sulit

Minggu, 20 November 2016

Terkadang memikirkan seseorang lebih berat dari sebuah kepentingan kebanyakan
Pribadi bertarung dengan sosial
Pribadi menjadi khalayak, masyarakat sekitar yang meramaikan fikiran
Lebih sulit memahami dirinya dari sebuah lukisan abstrak
Lebih sulit mencintainya dibandingkan sebuah puisi

Ia begitu rumit, mencintainya sulit

0 Sepi

Sabtu, 12 November 2016

Tiada pundak , tak ada pantai untuk berteriak
Hanya kamar kosong dan bayangan usang menyanyikan lagu pengantar tidurku seharian

Tak ada suara yang mampu kudengar kecuali suara sendiri
Tak ada hati yang mampu kupahami begitupun hati sendiri

Hingar...hingar...dan sepi
Tertawa sendiri, menipu hati
Seperti merantau dan tak mampu kembali
Dari rasa senang hati
Lantas, esok akankah kuulangi kembali
Hari ini yang sepi
Semoga aku masih sanggup berdiri

0 Malam, dan hal yang aku benci

Selasa, 08 November 2016

Kembali dipanggil malam, ialah ingatan masa silam tanpa kuundang
Malam mengajakmu bermain dalam pikiran
Antara ada dan tiada
Bahagia dan nestapa
Kau melibatkannya,
Menyajikan padaku sebagai hidangan makan malam kita, menjadikannya sebagai penyedap agar kulahap menyantap
Kau yang samar kupandang
Kau yang pantang kukenang

Sunyi yang malam sebabkan
Membuat cambuk bagi kesendirian
Dan kau tersenyum dalam sebuah pelukan perempuan
Lalu kusadar ini hanyalah perasaan
Perasaan sendirian...

Kubataskan pikiran, untuk pantang memandang
Kubuka jendela rumahku, lalu kuhamburkan kau dalam udara
Dan kuhirup kembali untuk melanjutkan hari

Kau berdiam diri dalam paru paru
Menjadi udara bagi tubuh yang semakin renta
Mengalir seperti darah dalam setiap nadi
Dan aku merasa berubah diri
Seperti diri yang kuhindari

Hari hariku yang candu
Dari cinta yang hanya meminta
Dari harap yang selalu menganga
Seperti waktu yang tak pernah terukur
Ia terlalu hebat untuk hanya kubabat

Lalu kusebut ini sebagai, "kombinasi yang menyakitkan"

0 Hujan, dan selamat tinggal

Minggu, 23 Oktober 2016

Pada malam, malang dan hujan
Kau berada di sudut ruangan
Dengan pena dan buku bacaan
Dan hujan yang membuyarkan pikiran
Kau buka jendela kamar, tersenyum simpul dan menghirup udara segar
Lalu terpaku pada setiap rintikan

Aku dan hujan, bersama jatuh tepat di depan sepasang matamu
Mengucapkan selamat tinggal
Yang amat dalam
Tanpa bahasa, dan suara dengan terlalu banyak makna

0 Untuk yang terindu

Selasa, 11 Oktober 2016

Untuk yang terindu, jawablah!
Biar hanya 'Y atau 'tdk"
dengan wajah yang berpaling dan memporakporandakan perasaanku
Mengajak kabut hitam berseteru dalam dalam dinding dinding jantungku ,membuatku sesak, susah biar hanya menghela nafas

Hening malam sunyi senyap perasaan
Lara bernyanyi mencoba menjadi hiruk pikuk dalam bagian
Dan rindu memberikan sinyal!
Untuk menjamu pikiran

Larut diri dalam lamunan dalam
Mengingat manisnya senyuman dan syahdu nya perkataan yang keluar dari mulut sang pangeran
Mengajak lara terus menerus menghirukkan
Lalu tak karuan

Marah...marah...marah...
Marah pada bimbang, pada semua keraguan, pada setiap kesempatan yang hanya mampu menjadi bubur yang terbuang, menjadi basi dimakan larutnya waktu yang berjalan

Rindu bagi yang terindu, jawablah aku biar kau tak pulang
Biar ku tak menunggu kau datang
Aku ingin tidur sebentar....

Kepada : B

0 Jika kau

Rabu, 07 September 2016

Jika kau membaca ini, maka kau pun tak perlu tanyakan apakah aku gusar dengan rindu yang kau sebabkan.

Jika kau membaca ini, apakah kau akan bertanya kabar? Dari hari yang tak sebentar dari kepergianmu yang kutakdirkan

Jika kau membaca ini, apakah kau akan seketika mengingat kebersamaan. Setidaknya saat saat yang membuatmu terkenang dan ingin mengulang

Jika kau membaca ini, apakah kau akan menghitung setiap perjumpaan? Dari hanya segelintir kesempatan

Jika kau membaca ini, kau masih saja akan bertanya perasaan?

Jika kau membaca ini, akankah kau melihat kekonyolan. Dari sebuah sesal?

Jika kau membaca ini, aku ingin bertanya apakah kaupun rindu demikian?

0 Akhirnya kau pergi

Jumat, 12 Agustus 2016

Kepergianmu adalah berita yang tak pernah kudengar, namun aku kenang. Berita kepergianmu tak kan pernah datang, dan aku takkan mengundang. Apakah aku juga kau kenang atau pernah jadi bahan pertimbangan dari alasan? Atau kau abaikan. Kepergianmu adalah petaka yang kuhindari, tapi sayang aku lengah mengabadikan.

Aku menghitung berapa pekan, dari kepergianmu yang tak kuikhlaskan. Berteman dengan ilalang aku bertanya dengan sendirian? Sayang, aku seorang tuli, buta. Aku tak bisa mengerti apa kata ilalang. Aku hanya dapat merasakan kedukaan yang dalam dari gerakan ilalang, yang dibantu angin siang untuk memberikanku jawaban. Biar aku yang mengartikan, apapun itu.

Duka dan kegelapan adalah hariku berikutnya tanpa kau. Aku bersanding dengan penyesalan, dengan firasat kotor seorang setan. Siulan burung malam, meyakinkan bahwa ini mengenaskan. Mereka membawaku bimbang, dari kejadian yang aku percayakan. Aku terlelap dipangkuan setan, namun berselimut kebaikan. Aku kian hilang kepercayaan...

Bisakah aku tidak membenci, jika memang terlanjur terjadi? Sanggupkah aku mengepakkan sayap sayap malaikat dan memuja surga Tuhan. Atau hanya sekedar ucapan, untuk meredam hati agar ingkar.

Masihkah ada waktu panjang, bagiku meneruskan pencarian? Adakah keajaiban untuk hanya membuat rindu padam?

Ataukah takdir telah bergegas membakar kesempatan, untuk hanya sedetik pertemuan. Biar hanya sekilas tatapan tanpa ucapan selamat tinggal.

0 Perempuan yang tertinggal

Harap masih berada dalam kungkungannya, perempuan itu tak pernah mau beranjak dari gundah yang ia ciptakan sendiri. Hatinya terlalu keras, angannya terlalu konstan. Apa ia tak bosan?

Telinganya kini kian tuli dari bisikan bisikan kebahagiaan yang menjanjikan. Mengapa ia hanya termangu dalam cekam, dari penantian tanpa keputusasaan. Logika pun tak mampu memperingatkan bagi niatnya yang telah membatu. Hanya untuk merayu, dari tempat dimana ia katakan kenyamanan. Hanya untuk membantu ia pergi mendapatkan hak yang lain lagi.

Perempuan demikian, membisingkan dengan tangisan dari hati yang paling dalam tanpa ada yang mendengar. Mulut mereka diam.

Rasa adil apa yang kalian nanti? Hidup apa yang sedang kalian mimpi?

Apakah kenyataan telah memberikan arti, bagi mimpi kalian ini?
Ataukah kalian menolak dan tetap ingin beraa dalam kenyaman yang kalian rasakan sendiri?

0 Insomnia

Jumat, 05 Agustus 2016

Malam selalu menjadi teman dari bimbang, aku bertemu lagi dengan insomnia, yang sedang meminta kencan di akhir pekan. Dengan nyanyian jangkrik yang riang berdendang disusul pikiran yang menendang...

Mungkin otak sedang girang, sehingga memunculkan beberapa pertanyaan, atau sedang mengembalikan bimbang dan keraguan. Aku sedang hilang kepercayaan...

0 Tak berani

Jumat, 27 Mei 2016

Nasibku sedang termangu,  dengan waktu yang berlalu ditemani ragu. Tanpa tahu, kapan ia menemui tepat yang diharap.

Kapan aku tahu,  kapan kamu tahu
Kita berdua sedang kompak dengan rasa ingin tahu
Kita berdua bertanya pada diri dan waktu
Pada hal yang tak tentu
Kita berdua apakah sedang ragu?

Lalu, kita jadikan waktu sebagai alasan
Atau malah berkata takdir dan garis tangan?

Dimana ketegasan,  dimana kemauan?
Untuk sekedar memerintahkan kaki maju ke depan
Biarpun mulut tetap bungkam

Lalu kita katakan,  bisakah ada sekali lagi kesempatan
Atau malah diterpa ketakutan
Untuk mengulang kegagalan
Dan berusaha melalui tahapan,  biarpun kembali gagal

0 Rumah baru

Selasa, 24 Mei 2016

Ijinkanku tinggal biar sebentar
Aku ingin menulis kenangan, biar hanya satu hembusan
Percayalah aku bukan berlanglang
Tapi aku sedang nyaman

Ada sebuah hadiah dari Tuhan
Yang baru kutemukan,
Tentang kesederhanaan yang pernah menjadi enggan
Kini kupakai sebagai hiasan
Dari hidup yang tak sebentar

Tuhan mendatangkannya dengan cinta,
Dan dengan cintalah aku merangkulnya,
Tanpa mengenal patuh , tangan sigap dan begitu erat
Lalu indah menjadi dekor megah
Dari hari yang berjalan tanpa perintah

Aku butuh ijin dan alasan tepat
Biar hanya kutinggal cepat
Wajah wajah kekhawatiran itu
Membuat ku berat, biar hanya pamit sejenak...

Lelahkah , dengan rumah baru ini?
Ataukah menjadi lengah?
Ternyata aku masih seorang hambanya yang lemah
Dan kurasakan keduanya berkecamuk didalamnya
Menyajikan aku pilihan yang tak mudah
Semoga aku tak salah

Dua tangan ini, dua kaki ini
Bisakah ku nilai sanggup?
Mengemban amanah dari hadiah Tuhan yang terindah
Bisakah ku rangkul semuanya
Tanpa rasa lengah
Tanpa salah
Tanpa ada khilaf

Namun, kuasanya sungguh luar biasa
Aku hanya mampu banyak berserah
Semoga diri lebih mampu membagi
Dari hanya sebuah amoeba
Hati tak bergeser dari sebuah fitrah
Dan semoga hidup tetap barokah

0 Perasaan

Selasa, 29 Maret 2016
Perpisahan adalah sore yang menjadi batas atas siang malam. Sore melambaikan tangan saat matahari terbenam. Semua akan dimakan jaman, namun ada yang tak bisa usang. Dialah perasaan, kasih sayang. Dari hati yang tanpa pamrih. Dimana ketulusan menjadi arus. Kerelaan menjadi hilir. Lalu rindu menjelma menjadi polusi, dari tentram yang menjadi air.

~ Nat 

0 Rindu

Rabu, 24 Februari 2016

Rindu menjadi akumulasi
Melalui hari hari dengan menanti
Kau menjadi mimpi oleh diri yang hina ini
Kapan menjadi pertanyaan yang berulang
Dari harapan yang tak pernah muram
Untuk sekedar menghapus rengekan rindu yang dalam
Sudikah takdir menuliskan pertemuan
Bagi rindu yang dalam
Untuk sekedar membiarkan ia hangus oleh tatapan
Biar hanya sekedar obrolan " apa kabar?"

~Nat

0 Tentang

Minggu, 14 Februari 2016

Senyummu adalah sajak yang tak mampu kutulis, namun dapat kubayangkan keindahannya.
Matahari ....

0 Pemenang

Sabtu, 30 Januari 2016

Bagaimana perasaanmu, hari ini?.
Apakah kau merasakan sebuah kemerdekaan?
Sudahlah kau tertawa bebas di udara, merentangkan tanganmu setinggi awan?
Sambil kau ingat wajah bodoh itu.
Sesekali senyumnya kau tertawakan, bahkan kau hina
Sudah hinakah dia untukmu?
Dengan segala ketulusannya, yang kau tukar dengan rasa pahit
Sudahkah kau jatuhkan air matanya, yang mampu menemani rintik hujan
Bersamaan dengan kelamnya kecewa yang akan bersama gelapnya malam
Adakah kau merasa gagah saat ini?
Bijak kah kau dengan hinanya orang bodoh itu
Dengan segala harap yang ia gantungkan padamu
Keberanian yang ia percayakan di punggungmu
Lalu, hinakah ia lagi dengan kelalaiannya?
Dengan harapannya?

...........

0 Perempuan dan matahari

Selasa, 19 Januari 2016

Senja menemani tanya, dari pikirannya yang menganga. Hatinya yang tak pernah singgah, namun ikut bertanya.

Mulutku kemudian bercerita, tentang perempuan perempuan yang memuja, dan menunggu nirwana. Untuk dapat jatuh tepat didepan mata mereka. Maka dengan itulah mereka berdiri disana, menanti sunset dan sunrise setiap harinya.

Lagi kau bertanya, mengapa harus matahari yang menjadi obyeknya?

Disinilah matahari berlaku tak sopan, dengan gravitasinya, monster gravitasi, ia menarik dan membuat tertarik. Pada setiap apapun yang mendekat. Layaknya menelan merkurius dan venus dikala ia ingin.

Adakah yang ingkar pada sebutan sang surya, diatas segala manfaatnya. Dibalik mudharatnya, bukankah ia tercipta untuk membunuh lorong lorong kosong makhluk alam jagat raya. Menghibur hati sang ratu dari gundah. Begitulah ratu memilih obatnya.

~Nat

0 Kencan Kala Itu

Ada waktu dimana aku meminta bertemu. Untuk sebuah kencan, yang tak banyak tahu. Gelap menjadi latar kebersamaan kita saat itu. Dalam waktu 1/3 malam bersamaMu.

Diam menjadi kata kata, kencan kala itu. Entah bagaimana Engkau paham maksutku, namun Kau Maha Tahu atas aku. Diam menjadi romantis, lalu kusapa gerimis membasahi sajadah dan tasbih.

Napasku semakin memburu bersamaan dengan menyebut namaMu. Harap Kau dengar bahwa hati meminta petunjukMu, Sang Maha Tahu. Dari kencan malam itu.

Kurasa saat itu, kasihMu membelaiku. Di sepertiga itu Kau memelukku, mengusir getir yang menjadi ragu mengganggu. Hangat berikut serta, memanggil harap. Dari patahnya sayap. Dan genggaman itu memporak porandakan diri yang lalu, menjadi baru.

Adakah yang lebih romantis dari kencan kala itu?

~Nat

0 Bekal Makan Siang

Minggu, 10 Januari 2016
Deru  suara menjadi pertanda, kau lapar dan sedang tersiksa dahaga. Kau butuhkan bekal untuk membunuh siksa.  Layaknya perut dan kerongkongan kau manja dan meminta minta. Berharap hampa tak menjadi durjana, meminta muara untuk kekeringan yang sedang melanda. Bercita cita tak rasakan bunyian keroncongan, untuk masa masa selanjutnya.
Siang menjadi badai yang kau takutkan. Teriknya matahari kau katakan menusuk tulang – tulang, mencucurkan keringat, dan menebarkan bau badan yang menyengat. Siang tak lagi hangat. Siang kenapa menyengat?. Menghisap tenaga sampai tulang belulang, seperti anjing yang kelaparan. Lalu, kau minta adanya bekal agar kau tak lemah melawan musuh yang dinamakan siang.
Bekal makan siang, begitu kau ucapkan. Kau mencari bekal makan siang apa yang tak membuatmu bosan. Bekal yang memudahkan, jika kau terhimpit waktu dan kesibukan untuk siksa siang yang datang.
Bekal makan siang menjadi santapan, untuk memanggil tenaga yang hilang dimakan siang. Bekal makan siang kau sayang – sayang, kau jadikan harapan, andalan melawan siang. Kau sombongkan pada siang, membuktikan kau telah mampu melawan.
Sayang, bekal siang tak selalu enak dimakan. Begitu pula dipandang, bila suasana kau katakan tak sesuai. Bekal makan siang, tak mampu bertahan untuk gelap yang datang, yang membutakanmu saat malam. Bekal makan siang, akan basi dimakan waktu. Hanya mampu jadi batu, yang siap kau lemparkan jika lupa kau makan dan kau pandang tak mengenakkan.        

Ini hanya bekal makan siang….

3 Perempuan Sepanjang Jalan

Jumat, 08 Januari 2016
Telah kulalui separuh hidup dengannya yang berani mencintai. Apa daya aku hanya mampu pergi, malah tak pernah berbalas budi. Sungguh manis hari dengannya pujangga hati. Hari – hari yang kini telah mampu kukubur demi mimpi yang lain lagi. Aku  beranikan mengubur rindu dan hati yang utuh demi yang lebih pasti. Masa depan yang terus menghantui. Bisakah kuminta kau, untuk tak gusar saat aku tak ada lagi.
          Kita pernah bersama dalam suka dan duka, biarpun sekarang telah menjadi dusta. Musim tropis di negeri ini telah membuat kita mengukir banyak cerita, mengulang kemarau dan musim hujan. Bersantai saat kemarau, dan berlarian saat hujan. Bahkan tak jarang, kita terpeleset dan saling menertawakan. Begitulah, sebelum dusta datang.
Pangkuan menjadi andalan, saat ku pulang bercerita, dan merengek untuk dimanja. Kau yang mencintaiku, tanpa kuminta menyediakan pangkuan agar aku bebas berceloteh tentang keburukan keburukan hari yang menghantamku saat itu. Dengan senyum dan belaian pada rambut, kau setia menemani biarpun volume suaraku tak tahu diri, seakan siap menghantam gendang telingamu. Kau tak pernah sedikitpun terganggu, biarpun aku mengganggu.
          Perempuan ini, masih jelas mengingat, tajamnya mata elang yang kau suguhkan. Kau tak pernah lupa betapa aku suka dimanja. Kau berikan bait – bait nyanyian cinta, agar menemaniku saat kau tak ada. Kau sibuk bekerja, untuk mencapai masa depan kita berdua. Kita pernah bermimpi tentang bangunan rumah, berbeda saat berpendapat tentang rumah dan perbotan, tentang warna dan gayanya. Lalu kita berselisih, dan aku slalu merengek untuk menang, kau slalu saja mengiyakan.
          Aku hanya seorang perempuan yang tak pernah luput dari rasa ingin diperhatikan. Kau suka menyuguhkanku alam agar menikmati hidup yang tak sebentar. Desiran angin pantai kau percaya akan memanjakan emosiku. Beratap langit, dan beralas pasir berdua dengan dimanja angin kita melupakan hiruk pikuk hidup kota. Bercengkrama seakan hari tak kan pernah terganti, lupa bahwa matahari ada saatnya menenggelamkan diri. Mengejek dan berlomba berteriak di tengah pantai, berharap Tuhan mendengarkan tentang takdir yang kita harapkan.
          Aku perempuan yang menemanimu tak kenal waktu. Kau slalu menggandengku dimanapun jalan kita tempuh berdua, kau bercerita dengan gagah pada dunia tentang perempuan yang bergandeng tangan denganmu di sepanjang jalan. Kau katakan tak kan pernah takut ditusuk parang, biarpun dari belakang, asal mati di genggaman orang yang kau sayang.
Perempuan manja dan perengek seperti ini yang kau sayang? Pernah kutanya demikian. Kau hanya mampu tersenyum memandangiku, dengan pelangi yang kulihat dari sorot matamu. Betapa kulihat kau seorang yang gila, mencintaiku sepenuhnya. Seakan aku adalah hidup dan matimu, biar kau tak tahu bagaimana takdir berbicara pada kita. Tentang kita.
Takdir menunggu waktu, untukku dan untukmu demi memberitahu kabar baru. Kabar baru yang membawaku tak kembali dalam pangkuanmu, dan membiarkanmu menjadi sendirian. Sendirian akan menggandengmu, entah apakah kau akan membanggakannya seperti aku?, dan akhirnya kau tahu perempuan yang kau puja ini, ternyata hanya mampu pergi dengan tak tahu diri, pergi hanya untuk alasan yang mampu kau beli. Aku rindu namun hanya sebatas waktu. Maafkan aku lelaki …        

0 Dia yang Sendirian

Kamis, 07 Januari 2016


Kudengar kau mulai penat, mengusap keringat. Kau pertanyakan semangat, dimana akan kau dapat. Kau mulai mencari tempat untuk sekedar singgah, bermimpi indah, mengusir gundah dan lelah. Melupakan kesendirian di tengah hamparan duri – duri tajam kehidupan, yang siaga menusukmu saat kau lengah. Menunggu waktu kapan kau berada dalam cengkramannya.
Kesendirianmu adalah harapan. Kau terbiasa melawan panas dinginnya kehidupan. Sibuk berselimut sendiri dalam kedinginan, dan mencari angin saat panas datang. Kau tampak sepi dengan sendirian. Kau melakukan apapun yang kau sebut menyenangkan, tanpa kau sadar kau masih sendirian.
Tubuhmu menjadi pengorbanan akan dampaknya sendirian, kau mulai kurus kerontang. Seperti tanpa ada tangan – tangan memberimu suapan, biarpun hanya nasi segenggam. Lalu, kau dengar perkataan bahwa kau menyedihkan. Bukan kau menyedihkan, kau hanya kurang perhatian darinya yang kau harapkan.
Kesendirianmu pernah menjadi penantian, untuknya yang slalu kau ceritakan dengan sgala kebanggan. Perempuan yang bersamamu sepanjang jalan, yang kini terpisah ruang. Ruang yang kau sebut takdir kejam, yang mampu membuka peluang bagi perubahan. Perubahan yang menyedihkan, agar dia tak pulang dalam pangkuan.
Hari – harimu dilalui waktu yang berputar mundur, kau bergelut dengan kenangan. Kenangan dengan perempuan sepanjang jalan. Biarpun kau tak tahu, hatinya juga merindu walau hanya sebatas waktu. Kau dianggapnya hanya kenangan, namub kau melebihkan diq sebagai sumber kehidupan.
Kerelaan tak pernah jadi teman, kau gengsi tuk katakan bahwa kau tak ingin ditinggalkan. Kau menunggu dia sadar, dan kembali dalam pelukan biar itu tak pernah sampai. Lalu kau mengakrabkan diri bersahabat dengan sendirian.
Kau terus menyalahkannya yang tak kembali ke pangkuan. Dia bukan lagi sumber kehidupan yang kau dambakan, kau tempatkannya sebagai sumber amarah dari setiap batu – batu yang menghadangmu di jalan. Lalu kau katakan, tak sediakan pangkuan biarpun dia pulang. Kau tetap ingin sendirian, mengusap keringat membayar alasan dari kepergiannya meninggalkan pangkuan.
 Hidupmu lontang lantung tak karuan, kau beranikan menjual kebahagiaan mengambil resiko laba rugi menjadi bagian. Kau jadikan hidupmu sibuk, dengan hati yang slalu berantakan. Kau menjajah dirimu sendiri, menjadikan diri dua bagian sebagai punggawa dan tenaga rodi dalam bekerja. Hanya untuk membayar alasan, untuk sebuah bukti diri dan pebgakuan, bahwa kau lelaki yang mampu membeli alasan kepergiaanya dalam pangkuan.
Kau pernah mencari bahu sebagai sandaran, tapi sayang tak ada yang sesuai keinginan. Mereka hanya layak dijadikan bekal makan siang untuk mengisi tenaga yang hilang. Mereka tak mampu tinggal menjadi sumber kehidupan. Dan kau slalu katakan, kau pantas sendirian.
Kabut slalu datang biar tak diundang. Kau butuhkan rumah untuk pulang. Namun, baru selangkah kau sampai mengucap salam, kabut telah menggelapkan pemandangan. Rumah ternyata tak lagi juga ramah, untuk hanya sekedar singgah biarpun kau tak betah. Raungan – raungan mulut bertentangan menjadi makanan, biarpun terlihat samar apa yang tampak dibelakang. Tak ada ketenangan, biar hanya tidur sebentar. Raungan – raungan kembali menambahkan tinta – tinta di hati, tanpa bibir mengucap pasti dari sakit hati. Lalu kau putuskan pergi, kau slalu ingin sendiri.
Sendiri menjadi kawan sejati, biarpun kau tampak tak senang hati. Tanpa berkata satu bait tampakan rapuhnya diri. Kau berteriak dalam hati, menangis di kala sepi. Kau pikul semua sendiri. Kau  bergegas pergi dikala pagi, kau habiskan hari bukan hanya sekedar demi sesuap nasi. Kau akrabkan diri dengan malam yang menggelapkan jarak pandang. Kau tetap berjalan, mengejar yang kau inginkan. Sendiri, demi  sesuatu yang ingin kau beli, yang akan kau miliki, nanti. Kau hanya laki – laki.